Logo JawaPos
Author avatar - Image
18 Maret 2026, 19.27 WIB

Kisah Mohammed Salim, Pesepak Bola India tanpa Sepatu yang Bersinar di Eropa

Mohammed Salim, pemain sepak bola India tanpa sepatu yang pernah tampil di Eropa pada 1930. (Istimewa) - Image

Mohammed Salim, pemain sepak bola India tanpa sepatu yang pernah tampil di Eropa pada 1930. (Istimewa)

 

JawaPos.com–Ketika berbicara tentang India, kebanyakan orang langsung teringat pada Taj Mahal, Bollywood, atau ragam kulinernya. Namun, jika topiknya beralih ke sepak bola, tidak banyak yang bisa langsung menyebut nama besar dari negara tersebut.

Padahal, jauh sebelum era modern, India pernah memiliki sosok yang mencuri perhatian Eropa yaitu nama Mohammed Salim. Nama Salim mungkin kalah populer dibanding Bhaichung Bhutia atau Sunil Chhetri. Namun, kontribusinya terhadap sepak bola India tidak bisa dipandang sebelah mata.

Dia bahkan dianggap sebagai pionir yang membuka jalan bagi pemain India untuk dikenal di panggung internasional. Lahir di Kolkata pada 1904, Salim memulai kariernya bersama klub lokal sebelum akhirnya bersinar bersama Mohammedan SC.

Di sana, dia menjadi bagian penting dari dominasi klub yang berhasil menjuarai Liga Kalkuta selama lima musim beruntun pada periode 1934 hingga 1938. Namun, yang membuat Salim berbeda bukan hanya soal prestasi.

Dia dikenal sebagai pemain yang tampil tanpa sepatu. Pada masa itu, hal tersebut memang bukan sesuatu yang sepenuhnya asing di India. Selain karena kebiasaan, bermain tanpa alas kaki juga kerap dianggap sebagai bentuk simbolis terhadap situasi kolonial saat itu.

Titik balik karirnya datang pada 1936. Berkat dorongan sang sepupu, Salim berangkat ke Inggris dan kemudian menuju Glasgow. Di sana, dia mendapat kesempatan langka untuk menjalani trial bersama klub raksasa Skotlandia, Celtic FC.

Awalnya, manajer legendaris Willie Maley meragukan kemampuan Salim. Gagasan tentang pemain amatir dari India yang ingin bermain di Eropa bahkan tanpa sepatu terdengar tidak masuk akal. Namun, keraguan itu segera sirna saat Salim menunjukkan kemampuannya di lapangan.

Meski demi keamanan kakinya dibalut perban, Salim tetap bermain dengan gaya khasnya. Sentuhan bolanya halus, dribel memikat, dan permainannya mampu menghibur penonton.

Dia tampil gemilang dalam beberapa laga bersama tim cadangan Celtic, termasuk saat timnya menang besar atas lawan-lawannya. Penampilannya bahkan menarik perhatian media. Salah satu surat kabar Skotlandia menjulukinya The Indian Juggler, sebuah pengakuan atas kemampuannya mengolah bola dengan cara yang tidak biasa.

Sayangnya, kisah indah tersebut tidak berlangsung lama. Salim memutuskan kembali ke India hanya beberapa bulan setelah tiba di Eropa. Rasa rindu kampung halaman menjadi alasan utama di balik keputusannya itu.

Menariknya, sebelum pulang, Celtic sempat menawarkan bagian dari pendapatan pertandingan sebagai bentuk apresiasi. Namun, Salim menolaknya dan memilih agar uang tersebut disumbangkan ke panti asuhan. Sebuah keputusan yang semakin mempertegas karakter rendah hatinya.

Sekembalinya ke India, Salim kembali memperkuat Mohammedan SC hingga akhirnya pensiun pada 1938. Dia meninggal dunia pada 5 November 1980, dalam usia 76 tahun.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore