
Xabi Alonso. (Istimewa)
JawaPos.com-Pekan lalu, Xabi Alonso resmi mengakhiri masa jabatannya yang terbilang mengecewakan sebagai pelatih kepala Real Madrid. Hanya tujuh bulan bertahan, Alonso harus angkat kaki usai kekalahan menyakitkan di ajang Piala Super Spanyol melawan Barcelona.
Tak butuh waktu lama, manajemen Real Madrid menunjuk Alvaro Arbeloa sebagai pengganti. Kedatangan Xabi Alonso ke Santiago Bernabeu pada musim panas lalu sebenarnya disambut dengan ekspektasi tinggi.
Reputasi Xabi Alonso bersama Bayer Leverkusen membuat banyak pihak yakin dia adalah sosok tepat untuk membawa Real Madrid ke level berikutnya. Namun, realitas di ibu kota Spanyol berkata lain.
Selama masa jabatannya, Xabi Alonso kerap disorot karena dinilai kesulitan memaksimalkan skuad bertabur bintang. Bahkan, dia secara terbuka menyebut kekuatan dan karakter pemain sebagai salah satu faktor yang membuat pekerjaannya tidak berjalan efektif.
Di sisi lain, kabar ketidakpuasan dari sejumlah pemain senior pun ikut mencuat ke permukaan. Pandangan kritis datang dari mantan pemain Real Madrid Gareth Bale.
Mengutip MARCA, menurut Gareth Bale, kegagalan Alonso bukan sesuatu yang mengejutkan. Sang pelatih terlalu menitikberatkan aspek taktik, tetapi kurang memberi perhatian pada manajemen pemain, terutama di ruang ganti yang dipenuhi ego besar.
Bale mengakui Xabi Alonso adalah pelatih yang luar biasa. Dia telah memenangkan gelar dan mengangkat trofi di Bayer Leverkusen. Xabi telah melatih tim dengan sangat baik.
"Tetapi ketika tiba di Real Madrid, Anda tidak perlu menjadi pelatih, Anda perlu menjadi manajer. Anda perlu mengelola ego di ruang ganti," ujar Gareth Bale.
“Anda harus memanjakan ego. Anda tidak perlu melakukan begitu banyak hal taktis. Di ruang ganti ada superstar yang bisa mengubah jalannya pertandingan dalam sekejap mata. Jadi, ya, Anda bisa mengatakan bahwa dia adalah pelatih dan ahli taktik yang hebat, tetapi di Real Madrid, jelas, itu tidak berhasil,” papar dia.
Pernyataan Bale tersebut seolah menegaskan satu hal yakni melatih Real Madrid adalah pekerjaan yang sangat spesifik. Tidak cukup hanya dengan papan taktik dan skema permainan canggih.
Di klub sebesar ini, kemampuan mengelola karakter, status, dan ego pemain sering kali jauh lebih menentukan. Kursi pelatih Real Madrid adalah salah satu yang paling berat di dunia sepak bola.
Tekanan konstan, ekspektasi trofi, serta kehadiran para superstar membuat peran pelatih lebih mirip manajer hubungan manusia ketimbang sekadar perancang strategi.
Meski gagal di periode pertamanya, pengalaman ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi Xabi Alonso. Bila mampu mengambil hikmah dan berkembang dari situasi sulit ini, bukan tidak mungkin suatu hari nanti kembali ke Bernabeu.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
