
Sadio Mane pimpin Senegal juara piala Afrika. (ig @afcon2025official)
JawaPos.com-Final Piala Afrika antara Senegal dan Maroko bukan sekadar duel perebutan trofi. Sosok Sadio Mane tampil sebagai pembeda. Laga di Rabat itu berubah menjadi drama penuh emosi, kontroversi, dan ketegangan tingkat tinggi hingga hampir berujung walk out massal dari kubu Senegal.
Pertandingan berjalan ketat dan tanpa gol selama 90 menit. Senegal sempat bersorak ketika sundulan mereka di menit-menit akhir bersarang di gawang Maroko, namun kegembiraan itu sirna seketika.
Gol dianulir karena Abdoulaye Seck dianggap melanggar kapten Maroko Achraf Hakimi yang terjatuh saat duel udara. Belum habis kekecewaan Senegal, situasi justru makin memanas.
Pelatih Senegal Pape Thiaw, awalnya mengatur aksi keluar lapangan ketika wasit Jean Jacques Ndala meninjau keputusan penalti lewat VAR. Mane terlihat tak ikut pergi.
Keputusan Mane jelas. Dia bertahan. Dengan gestur tegas, Mane melambaikan tangan memberi isyarat kepada rekan-rekannya agar kembali ke lapangan.
Pesannya sederhana tapi kuat, pertandingan harus diselesaikan. Dan pesannya didengar. Para pemain Senegal akhirnya kembali, laga pun dilanjutkan.
Penalti tersebut dieksekusi Brahim Diaz dengan gaya panenka pada menit ke-24 waktu tambahan. Namun keberanian itu tak berbuah gol.
Edouard Mendy membaca arah bola dengan sempurna dan menepisnya, seolah mengembalikan momentum sepenuhnya ke tangan Senegal.
Empat menit berselang, Senegal benar-benar membalikkan keadaan. Tendangan jarak jauh Pape Gueye dari luar kotak penalti meluncur deras melewati kiper Maroko Yacine Bono dan menjadi gol pembuka sekaligus penentu kemenangan.
Di balik kemenangan itu, peran Mane terasa jauh lebih besar dari sekadar statistik. Pada usia 33 tahun, dia kembali menunjukkan mengapa dirinya selalu dipuji sebagai sosok teladan, bukan hanya di lapangan, tetapi juga di luar stadion.
Dia dikenal aktif membantu negaranya, mulai dari mendanai pembangunan sekolah, menyumbangkan laptop, hingga memberikan dukungan finansial kepada pemerintah. Filosofi hidupnya pun sederhana, seperti yang pernah dia sampaikan sebelum pertandingan.
"Saya tidak pernah (ingin) diakui setelah karier saya sebagai pemain sepak bola hebat. Saya hanya ingin diakui sebagai manusia yang hebat. Bagi saya, ini adalah kehormatan yang lebih penting," kata Mane.
Ini bukan kali pertama Mane mencatatkan kisah penting di Piala Afrika. Saat masih berseragam Liverpool, dia pernah mengalahkan rekan setimnya kala itu, Mohammed Salah, di final AFCON 2022 untuk menghadirkan gelar pertama Senegal sepanjang sejarah.
Turnamen 2025 menjadi partisipasi keenam Mane di Piala Afrika (2015, 2017, 2019, 2022, 2024, 2025). Dia bermain di tiga edisi sebagai pemain Liverpool dan dua kali harus meninggalkan klub dalam waktu lama di tengah padatnya musim Premier League.
Sebagai Pemain Terbaik AFCON 2021, Mane kini duduk di peringkat kesembilan daftar pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah kompetisi dengan torehan 10 gol.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mantan Kiper Persebaya Surabaya Buka Suara! Dimas Galih Ungkap Kondisi Ruang Ganti PSBS Biak
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
