Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 12 September 2025 | 21.05 WIB

Ancaman Kehilangan Generasi Pelatih Berkulit Hitam di Sepak Bola Inggris

Nuno Espirito Santo (X/@ethanlamb01)

 

JawaPos.com - Sepak bola Inggris kini dalam situasi serius, yakni ancaman kehilangan satu generasi pelatih dari latar belakang kulit hitam, Asia, atau campuran. Pemecatan Nuno Espirito Santo oleh Nottingham Forest pekan ini membuat Liga Inggris kembali tanpa manajer kulit hitam.

Situasi ini mengingatkan pada periode antara Maret dan Agustus 2023, ketika Patrick Vieira meninggalkan Crystal Palace dan sebelum Vincent Kompany naik ke divisi utama bersama Burnley.

CEO lembaga amal anti-diskriminasi Kick It Out, Samuel Okafor, menegaskan bahwa masalah ini sudah berlangsung lebih dari satu dekade. 

“Kita tahu ada beragam talenta, dan klub harus transparan dan adil dalam praktik rekrutmen mereka. Kita tidak boleh kehilangan generasi lagi karena kurangnya tindakan terkoordinasi,” ujarnya.

Pernyataan ini menekankan betapa pentingnya langkah konkret untuk mencegah bakat dari kelompok yang kurang terwakili menyerah sebelum sempat meniti karier kepelatihan.

Statistik menyoroti kesenjangan yang ada. Laporan 2022 dari Black Footballers Partnership menemukan bahwa 43 persen pesepakbola Liga Inggris berkulit hitam, tetapi hanya 4,4 persen posisi manajerial untuk mantan pemain diisi oleh pelamar kulit hitam. Angka untuk posisi eksekutif, kepemimpinan, dan kepemilikan bahkan lebih rendah, hanya 1,6 persen.

Sejarah singkat juga menunjukkan perjalanan panjang menuju inklusi. Ruud Gullit menjadi manajer kulit hitam pertama di Liga Inggris saat ditunjuk sebagai pemain-manajer Chelsea pada 1996.

Paul Ince menjadi manajer kulit hitam Inggris pertama yang menukangi klub Liga Inggris saat memimpin Blackburn pada 2008. Baru-baru ini, Ashvir Singh Johal mencatat sejarah sebagai manajer Sikh pertama di tim sepak bola profesional Inggris setelah ditunjuk di Morecambe.

Untuk menutup kesenjangan ini, Kick It Out meluncurkan strategi Football United awal bulan ini. Mereka bertujuan meningkatkan representasi di posisi kepemimpinan yang dinilai tidak mencerminkan komunitas lokal. Program ini mendukung pelatih dari kelompok kurang terwakili untuk mendapatkan kesempatan yang setara di klub-klub sepak bola Inggris.

Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) juga menempuh langkah serupa melalui Kode Keberagaman Kepemimpinan Sepak Bola sejak 2020, yang mendorong keberagaman dalam peran kepelatihan, operasional tim, dan kepemimpinan senior. Lebih dari 50 klub, termasuk 19 klub Liga Primer, ikut serta. Namun, meski ada berbagai program seperti Elite Coaching Program, pengaruhnya terhadap proses rekrutmen klub masih terbatas.

FA kemudian memperkenalkan aturan baru pada 2023, yang mewajibkan klub mempublikasikan data keberagaman dua kali setahun. Data ini mencakup usia, jenis kelamin, orientasi seksual, identitas gender, disabilitas, dan etnis.

Rencana Aksi Tanpa Ruang untuk Rasisme yang diluncurkan Liga Inggris pada 2021 turut mendanai dua program inklusi pelatih, yakni Skema Pemain Profesional ke Pelatih dan Skema Keberagaman Inklusi Pelatih.

Sejak didirikan empat tahun lalu, lebih dari 80 pelatih memanfaatkan program ini, dengan 75 di antaranya kini bekerja penuh waktu di berbagai klub.

Meski upaya tersebut mulai menunjukkan hasil, pemecatan Nuno Espirito Santo menegaskan bahwa jalan menuju kesetaraan masih panjang. Risiko kehilangan generasi manajer kulit hitam dan minoritas tetap nyata, jika tidak ada tindakan terkoordinasi dari klub, federasi, dan lembaga terkait.

Editor: Edi Yulianto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore