Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 2 September 2025 | 20.38 WIB

3 Mantan Pelatih Manchester United Dipecat dalam Seminggu, Kutukan atau Realitas Sepak Bola?

Karier Jose Mourinho di Fenerbahce resmi berakhir.

 

JawaPos.com - Dalam sepekan terakhir, sepak bola Eropa dikejutkan dengan tiga mantan pelatih Manchester United harus angkat koper dari klubnya masing-masing. Ole Gunnar Solskjaer, Jose Mourinho, dan Erik ten Hag adalah tiga nama dengan latar berbeda, namun memiliki benang merah sama, yakni pernah mencoba mengembalikan kejayaan di Old Trafford. Kini, mereka justru sama-sama merasakan pahitnya pemecatan.

Pemecatan ini menimbulkan pertanyaan, apakah ada semacam “kutukan” yang membayangi mantan pelatih Setan Merah? Ataukah ini hanya kebetulan belaka di tengah tekanan industri sepak bola modern?

Ole Gunnar Solskjaer, Dipecat Besiktas Usai Gagal ke Conference League

Menurut ESPN, Ole yang menjabat sebagai pelatih Besiktas sejak Januari 2025 resmi dipecat pada 28 Agustus 2025. Pemecatan terjadi setelah klub gagal melaju ke UEFA Conference League setelah kalah agregat 2–1 dari Lausanne dalam babak play-off. Keputusan diambil oleh dewan direksi pada malam itu juga, yang menyatakan berakhirnya kerja sama mereka setelah 29 pertandingan dengan rata-rata 1,72 poin per laga. Mantan striker legendaris Man United ini kalah dari ekspektasi besar terhadap kinerjanya.

Jose Mourinho, Dipecat Fenerbahce Setelah Gagal ke Fase Grup Liga Champions

Tak butuh waktu lama setelah Solskjaer, Jose Mourinho menerima nasib serupa. Fenerbahce mengumumkan pemecatannya pada 29 Agustus 2025, sehari setelah timnya gagal lolos ke fase grup Liga Champions usai kalah dari Benfica agregat 1–0. The Irish Times melaporkan pemecatan ini sebagai langkah drastis terhadap pelatih yang memiliki reputasi tinggi. Mourinho, yang menangani tim sejak musim 2024/2025, diganti menyusul kegagalan di lapangan dan ketidakcocokan dengan manajemen klub.

Erik ten Hag, Rekor Tercepat Dipecat di Bundesliga

Di Jerman, Erik ten Hag sebagai mantan pelatih Man United yang baru saja ditunjuk Bayer Leverkusen pada 26 Mei 2025, dipecat hanya setelah 2 pertandingan Bundesliga. Ia membawa Leverkusen mengalami kekalahan dari Hoffenheim (2-1) dan draw 3-3 melawan Werder Bremen usai memimpin 3-1.

"Perpisahan di tahap awal musim ini memang menyakitkan, tetapi kami merasa hal itu diperlukan,” ujar CEO Leverkusen, Fernando Carro, dalam sebuah pernyataan. “Kami tetap berkomitmen untuk mencapai target musim ini. Dan, untuk itu, kami membutuhkan kondisi terbaik di semua lini serta di seluruh tim utama. Sekarang yang terpenting adalah kembali menerapkan dan memaksimalkan kondisi tersebut sepenuhnya." imbuhnya.

Pemecatannya dilakukan pada 1 September 2025, setelah redundansi hasil, perubahan besar di skuad, serta pandangan negatif terhadap pendekatan taktiknya. The Guardian menyebut kepergiannya sebagai “rekor terpendek dalam sejarah Bundesliga,” sementara The Athletic menyoroti konflik internal dan dampak penjualan besar-besaran terhadap stabilitas tim.

Jalan yang Sama, Tekanan yang Sama

Sebenarnya ketiga pelatih ini berbeda, tetapi nasib yang menuntun pada pemecatan begitu cepat memperlihatkan satu benang merah, tentang tekanan tinggi dan ekspektasi instan yang kerap menghantam mereka. Di Man United, mereka dianggap ‘penebus era tersurut’. Namun, begitu keluar, otoritas itu tampak berubah menjadi beban berat di klub baru. Tren pemecatan cepat ini juga menguatkan opini media bahwa gelar eks pelatih Manchester United sering membuat klub lebih cepat intoleran terhadap hasil negatif.

Kutukan atau Realitas Industri Sepak Bola?

Kita tidak bicara soal kutukan mistis, tapi kondisi sepak bola modern yang terlalu kejam. Ole dengan semangat kebersamaan, Mourinho dengan segudang trofi, hingga Ten Hag dengan filosofi tajamnya, semuanya gagal bertahan lama saat tekanan memuncak.

Pertanyaan akhirnya adalah apakah reputasi besar menjadi pedang bermata dua? Mungkin. Klub-klub percaya pada nama besar itu, tapi begitu kinerja tidak langsung terlihat, mereka cepat beralih ke pilihan lain.

Dari Turki, Jerman, hingga Bundesliga, tiga mantan manajer Man United tersungkur dalam rentang satu pekan. Jika ini bukan kutukan, setidaknya ini adalah alarm keras untuk industri sepak bola: reputasi lama adalah modal, tapi bukan jaminan kesuksesan.

Editor: Edi Yulianto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore