Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 29 Januari 2025 | 00.12 WIB

Ketua Organisasi Wasit Inggris Howard Webb Dalam Sorotan: Kritik terhadap VAR dan Tuntutan Perubahan dari Klub Premier League

Howard Webb. (Dok. PGMOL)

JawaPos.com - Dua tahun sejak Howard Webb menjabat sebagai Ketua PGMOL (Professional Game Match Officials Limited), kesabaran klub-klub Premier League mulai menipis. Banyak yang merasa sistem VAR (Video Assistant Referee) tidak berfungsi sebagaimana mestinya, dan kesalahan demi kesalahan yang terjadi membuat klub-klub menuntut perubahan nyata.

Bahkan, ada spekulasi bahwa jika Wolverhampton Wanderers mengajukan kembali mosi untuk menghapus VAR, hasilnya mungkin akan berbeda dari keputusan 19-1 yang sebelumnya mendukung keberadaan teknologi ini. Meski sudah terlambat untuk mundur, VAR tetap tidak akan pernah menjadi favorit para penggemar sepak bola.

Salah satu insiden yang menjadi sorotan adalah keputusan Michael Oliver saat menjadi VAR dalam laga Manchester United melawan West Ham. Oliver memberikan penalti di menit akhir untuk West Ham atas pelanggaran yang tidak terlihat oleh siapa pun.

Meski teori konspirasi sering muncul, kenyataannya, insiden ini lebih karena kesalahan manusia. Oliver, yang diakui sebagai wasit berkualitas tinggi, kini disarankan untuk sementara diistirahatkan dari pertandingan penting.

Masalah utama dari sistem VAR adalah dinamika antara wasit junior dan senior. Wasit junior yang bertugas sebagai VAR sering kali dianggap tidak berani mempertanyakan keputusan wasit senior di lapangan. Ini menjadi salah satu aspek yang perlu diubah, dan PGMOL mulai memperkenalkan tim-tim VAR khusus untuk meningkatkan kualitas keputusan.

Webb mewarisi organisasi yang dikenal sulit berubah dan penuh dengan budaya lama. Namun, dia berupaya keras menciptakan jalur karier yang lebih baik bagi wasit muda berbakat. Musim ini, dua wasit dari EFL (English Football League) telah dipromosikan untuk tugas VAR di Premier League. Selain itu, PGMOL mulai menyediakan audio rekaman VAR untuk siaran TV demi meningkatkan transparansi.

Meski begitu, ada kritik terhadap pendekatan internal PGMOL. Terlalu banyak mantan wasit yang terlibat dalam tim kepemimpinan, yang dianggap hanya mengoreksi kesalahan mereka sendiri tanpa masukan eksternal yang konstruktif. Salah satu mantan wasit menyarankan bahwa kontrak untuk wasit seharusnya berdasarkan kinerja, bukan pekerjaan seumur hidup. 

Tekanan dari klub-klub semakin terasa. Mereka ingin melihat hasil nyata sekarang, bukan hanya janji perubahan di masa depan. Insiden seperti kartu merah yang diberikan kepada pemain Arsenal, Myles Lewis-Skelly, dalam laga melawan Wolves menjadi bukti bahwa keputusan kontroversial tetap ada meski menggunakan teknologi VAR. Bahkan Dermot Gallagher, mantan wasit yang biasa mendukung keputusan wasit aktif, mengakui bahwa keputusan itu salah.

PGMOL melaporkan peningkatan efisiensi hingga 50 persen sejak Webb menjabat. Namun, publik dan klub tetap meminta perubahan yang lebih cepat dan signifikan. Selain itu, keterlibatan Lee Mason, mantan wasit yang mengundurkan diri setelah membuat kesalahan VAR besar, sebagai salah satu dari 40 pelatih PGMOL, juga mendapat sorotan negatif.  

 
Editor: Hendra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore