Presiden FIFA bersama Donald Trump. (Istimewa)
JawaPos.com - Piala Dunia 2026 tinggal menghitung hari. Namun suasana jelang turnamen yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko itu mendadak berubah panas setelah konflik terbaru antara Amerika Serikat dan Iran pecah.
Serangan militer yang dilancarkan AS terhadap Iran akhir pekan lalu memicu aksi balasan di kawasan Timur Tengah.
Situasi ini menimbulkan tanda tanya besar soal nasib Timnas Iran di Piala Dunia 2026, yang rencananya mulai bergulir dalam waktu kurang dari empat bulan.
Iran sendiri sudah memastikan tiket ke putaran final dan tergabung di fase grup bersama Selandia Baru, Belgia, serta Mesir.
Dua laga awal mereka dijadwalkan berlangsung di Los Angeles, kota dengan populasi diaspora Iran terbesar di dunia. Satu pertandingan lainnya akan digelar di Seattle.
Meski pemain dan staf resmi mendapat pengecualian dari kebijakan pembatasan masuk warga sejumlah negara ke Amerika Serikat, faktor keamanan diprediksi menjadi perhatian utama.
Bukan hanya bagi otoritas tuan rumah, tetapi juga FIFA sebagai penyelenggara.
Ketua Federasi Sepak Bola Iran dikabarkan sempat menyampaikan keraguan soal partisipasi timnya di tengah situasi yang tidak menentu.
Hingga kini belum ada keputusan resmi terkait kemungkinan mundurnya Iran dari turnamen. FIFA menyatakan masih memantau perkembangan dan berharap seluruh peserta tetap ambil bagian demi menjaga integritas kompetisi.
Jika skenario terburuk terjadi dan Iran batal tampil, slot mereka kemungkinan akan dialihkan ke negara Asia lain sesuai regulasi Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC). Irak dan Uni Emirat Arab disebut-sebut menjadi kandidat terdepan apabila opsi penggantian dibuka.
Situasi ini menambah daftar tantangan non-teknis yang membayangi Piala Dunia 2026. Sebelumnya, hubungan politik antara Amerika Serikat dan beberapa negara peserta sudah menjadi sorotan, termasuk kebijakan luar negeri Presiden Donald Trump yang kerap menuai kontroversi.
Kedekatan Trump dengan Presiden FIFA, Gianni Infantino, juga tak luput dari perhatian publik. Apalagi Trump sempat menerima penghargaan “FIFA Peace Prize” dalam seremoni undian Piala Dunia 2026 beberapa waktu lalu.
Terlepas dari dinamika politik yang berkembang, para pemain Iran tetap fokus pada persiapan. Bagi mereka, Piala Dunia adalah panggung sepak bola tertinggi yang tidak datang setiap tahun.
Namun realitas di luar lapangan menunjukkan bahwa turnamen sebesar ini tak pernah benar-benar lepas dari urusan geopolitik.
Dengan waktu yang semakin mepet menuju kick-off, dunia kini menunggu kejelasan. Akankah Iran tetap tampil dan menjadikan sepak bola sebagai jembatan di tengah konflik, atau justru Piala Dunia 2026 kembali menjadi arena tarik-menarik kepentingan politik global?

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
