
Martin Odegaard (Instagram.com/arsenalfc)
JawaPos.com - Performa Eberechi Eze saat Arsenal ditahan imbang 1-1 oleh Brentford memunculkan banyak perbincangan. Salah satu yang ikut angkat suara adalah Peter Crouch.
Mantan striker Inggris itu menilai ada satu aspek krusial yang membedakan Eze dengan Martin Odegaard: tekanan.
Eze mendapat kesempatan langka sebagai starter di Premier League, tetapi malam itu tidak berjalan sesuai harapan. Ia ditarik keluar saat turun minum setelah kesulitan memberi dampak nyata.
Dalam 45 menit di lapangan, gelandang serang tersebut hanya mencatat sembilan operan—angka yang cukup rendah untuk pemain di posisi nomor 10.
Sebaliknya, ketika Odegaard masuk di awal babak kedua setelah absen dua pertandingan karena masalah otot, permainan Arsenal langsung terasa lebih hidup. Intensitas meningkat, aliran bola lebih rapi, dan tekanan ke lawan terlihat jauh lebih terorganisir.
Melansir Standard.co, Crouch menilai momen ini sebagai gambaran jelas perbedaan keduanya.
"Saya yakin dia belum pernah menjadi starter dalam sembilan pertandingan terakhir atau semacamnya, jadi dia mendapat kesempatan menjadi starter hari ini dan Anda berpikir 'baiklah, ayo tunjukkan kemampuanmu," kata Crouch.
"Sayangnya, dia sedang tidak dalam performa terbaiknya, dia kesulitan menguasai bola di babak pertama. Itu menyulitkan Arsenal secara keseluruhan."
Crouch juga menyoroti kontribusi tanpa bola yang menurutnya menjadi keunggulan Odegaard.
"Saya merasa kasihan padanya. Dan dia tidak memberikan apa yang Odegaard berikan dalam hal pressing, dan dia tidak berpengaruh ketika dia tidak menguasai bola."
"Sejujurnya, dia agak kurang berperan. Setelah setengah jam, kami sudah memperkirakan dia akan diganti karena entah kenapa saat ini sepertinya Mikel Arteta tidak menyukainya. Itu akan merusak peluangnya untuk membela Inggris.”
Namun, tidak semua sepakat dengan asumsi tersebut. Legenda Arsenal, Martin Keown, menilai persoalannya bukan soal suka atau tidak suka, melainkan soal adaptasi.
Baca Juga: Pede Juara! Jelang Manchester City vs Fulham, Pep Guardiola Optimis Salip Arsenal di Liga Inggris
“Untuk mengatakan bahwa dia tidak menyukainya, saya pikir itu lebih karena pemain tersebut tidak sepenuhnya memahami struktur permainan dengan cara yang sama seperti yang dipahami Odegaard,” jawab Keown.
“Jadi Odegaard tahu persis di mana harus berada ketika lawan menguasai bola, lalu memanfaatkan ruang-ruang kecil, umpan-umpan pendek, dan membangun permainan.”
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jafar dan Adnan Diduga Terlibat Match Fixing, PBSI Langsung Ubah Komposisi Ganda Campuran
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Arema FC di Piala Presiden 2026: Misi Green Force Unjuk Gigi!
Profil Malik Bawazier, Suami Cut Keke yang Dilaporkan Kasus Perzinaan dan Kohabitasi
Hasil Piala Presiden: Persebaya Surabaya vs Arema FC 1-0, Yuran Fernandes Gacor!
Prediksi Skor Persib vs Persebaya di Final Piala Presiden 2026: Duel Tim Kelelahan!
Suami Endah Fitrianingsih Sakit Hati ke Malik Bawazier Atas Kasus Perzinaan
Prediksi Skor Persib Bandung vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Misi Berat Macan Kemayoran!
Aji Santoso Resmi Latih de Red FC, Klub Baru Jawa Timur Pilih Stadion Gelora 10 November Surabaya
Pelapor Diintimidasi Pihak Malik Bawazier Usai Laporkan Kasus Perzinaan
Iran Buka Suara usai Pidato Prabowo, Tegaskan Tak Pernah dan Tak Akan Miliki Senjata Nuklir
