
Gol Caicedo bawa Chelsea menang tipis 1-0 atas Pafos. (Instagram @chelseafc)
JawaPos.com - Chelsea mencoba keluar dari pakem permainan mereka saat menghadapi Arsenal pada leg kedua semifinal Piala Liga Inggris di Emirates Stadium. Meski akhirnya kalah tipis 0-1 dan tersingkir dengan agregat 2-4, pendekatan yang diterapkan The Blues menarik perhatian banyak pihak.
Alih-alih menumpuk pemain di kotak penalti saat Arsenal mendapat sepak pojok, Chelsea justru mengirim tiga pemainnya berlari ke depan. Langkah ini memaksa Arsenal bereaksi cepat dengan menarik beberapa pemain mereka untuk berjaga di lini belakang, sehingga jumlah pemain di kotak penalti berkurang.
Strategi tersebut bukan sepenuhnya hal baru. Beberapa tim seperti Monaco dan Crystal Palace pernah meninggalkan pemain di depan saat menghadapi bola mati Arsenal.
Namun, Chelsea melakukannya dengan timing yang lebih berani, tepat sebelum eksekusi sepak pojok, sehingga membuat pasukan Mikel Arteta kehilangan momentum.
Pendekatan ini sejalan dengan pandangan Shay Given. Dikutip dari bbc.com mantan kiper Manchester City dan Newcastle United itu sebelumnya menyarankan agar tim-tim berani mencoba sesuatu yang berbeda untuk meredam keunggulan Arsenal dalam situasi set-piece.
Menurut Given, meninggalkan beberapa pemain di depan bisa memaksa Arsenal membagi fokus dan mengurangi kepadatan di kotak penalti lawan.
Data memang menunjukkan betapa efektifnya Arsenal dalam skema ini. Sejak awal musim lalu, mereka telah mencetak 53 gol dari bola mati di semua kompetisi, jumlah tertinggi di Premier League dan terpaut cukup jauh dari para pesaingnya.
Dalam laga melawan Chelsea, strategi tim tamu terbukti cukup efektif untuk satu aspek Arsenal gagal mencetak gol dari situasi bola mati.
Meski gol kemenangan tetap lahir dan tiket final berhasil diamankan, setidaknya Chelsea memberi gambaran bahwa strategi andalan Arsenal bukan tanpa celah.
Meski demikian, tak semua pihak sepakat dengan efektivitas taktik tersebut. Jamie Redknapp menilai taktik dari Chelsea tersebut masih menyimpan sebuah risiko besar.
Ia menyoroti momen ketika Enzo Fernandez harus berduel langsung dengan Gabriel, situasi yang dinilai terlalu menguntungkan bagi Arsenal jika umpan dilepaskan dengan akurat.
Terlepas dari hasil akhir, eksperimen Chelsea bisa menjadi referensi bagi tim-tim lain. Arsenal masih unggul dalam eksekusi dan kualitas pemain, namun laga ini menunjukkan bahwa pendekatan strategi lebih kreatif setidaknya bisa mengurangi ancaman dari bola mati yang selama ini menjadi momok bagi lawan-lawannya.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
12 Rekomendasi Mall Terbaik di Tangerang 2026: Destinasi Belanja, Kuliner & Lifestyle Favorit
Update Klasemen Usai MotoGP Catalunya 2026: Jorge Martin Gigit Jari, Bezzecchi Masih Tak Tersentuh
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Catalunya 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama Start P20
