Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 6 Januari 2026 | 16.30 WIB

Terungkap! 4 Dosa Ruben Amorim Berujung Pemecatan di Manchester United

 

Ruben Amorim saat masih memimpin latihan sebagai pelatih Manchester United. (Instagram Manchester United)

 

JawaPos.com - Manchester United akhirnya mengakhiri kerjasama dengan pelatih Ruben Amorim per 5 Januari 2026. Sebagian kalangan menganggap hal ini mengejutkan, tetapi sebagian lain menilai langkah Man United sudah tepat.

Jika melihat kiprah Amorim di Man United, bisa dikatakan ia masih jauh dari kata memuaskan. Musim lalu, di bawah komandonya, Setan Merah finis di peringkat 15 Liga Inggris, posisi paling buruk mereka sejak era Premier League.

Selain itu, ia gagal meraih kompetisi piala, sehingga Man United tidak meraih gelar apapun musim lalu. Dan, jika dianalisis lagi, ada sejumlah faktor yang bisa dikatakan sebagai dosa Amorim yang membuatnya gagal total di Man United. Apa saja itu?

1. Membuang Rashford dan Pemain Potensial Lainnya

Amorim secara mengejutkan berani mendepak pemain-pemain potensial yang ia anggap tidak sesuai dengan filosofi bermainnya. Salah satu yang disorot adalah mendepak Marcus Rashford, bintang asli binaan akademi Man United.

Rashford memang sempat menurun performanya di era akhir kepemimpinan Erik ten Haag, tapi pada awal masuknya Amorim, Rashford malah sempat mencetak gol dan berangsur-angsur kembali pada performa terbaiknya.

Tapi, bagi Amorim, Rashford adalah pemain buruk, kurang berambisi, dan tidak cocok dengan game plan miliknya. Ia pun kemudian dipinjamkan ke Aston Villa dan musim ini kembali dipinjamkan ke Barcelona.

"Saya bahkan akan menempatkan pelatih kiper saya, Jorge Vital (di bangku cadangan) daripada memasukkan pemain yang tidak memberikan yang terbaik setiap hari (Rashford)," ungkap Amorim dalam sebuah kesempatan seperti dikutip dari ESPN.

Selain Rashford, Amorim juga mendepak Jadon Sancho, Garnacho, Anthony, sampai Rasmus Hojlund. Alasannya kurang lebih sama, tidak bisa berkontribusi lagi, serta tidak cocok dengan game plan. Garnacho, yang bahkan punya peran besar membantu Man United lolos ke final Liga Europa pun didepak, bahkan dibuat tidak nyaman pada final tersebut, di mana ia hanya dicadangkan dan baru masuk pada pertengahan babak kedua.

Nyatanya, setelah mereka keluar, sebagian dari mereka ternyata tampil cukup apik. Rashford bisa berperan penting bagi Barcelona lewat gol dan assist-nya, meski harus bersaing dengan Raphinha dan Lamine Yamal.

Lalu, Rasmus Hojlund bersinar bersama Napoli, Garnacho dan Anthony tampil relatif baik bersama Chelsea dan Real Betis. Hanya Jadon Sancho saja yang tetap meredup.

Padahal, jika mereka masih diberi kesempatan, bisa saja mereka mampu memberi dampak positif bagi Man United, terutama yang kini bersinar bersama klub barunya.

2. Tetap Kukuh Pakai Pola 3-4-3

Dosa kedua adalah tetap teguh pendirian untuk menggunakan pola 3-4-3. Padahal, pola tersebut tak kunjung berhasil. Hal itu memang sulit diterapkan karena Man United tidak terbiasa menggunakan pola tersebut.

Man United sudah terbiasa menggunakan pola empat bek sejak dulu hingga era Ten Hag. Apalagi, di Liga Inggris, pola tiga bek nyaris tidak dipakai karena terlalu riskan.

Jadi ketika tiba-tiba dirubah menjadi tiga bek, otomatis MU kalang kabut, terutama barisan belakangnya. Efeknya, Man United terjerembab di posisi 15 pada klasemen akhir musim lalu, dan hingga pertengahan musim ini, Man United juga sering gagal menang meski kekalahannya tidak sebanyak musim lalu.

Editor: Edi Yulianto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore