
Pep Guardiola dan John Stones (Manchester City) vs Mikel Arteta dan Declan Rice (Arsenal). (Reuters/HannahMcKay)
JawaPos.com-Dua dekade terakhir, sepak bola dunia tidak hanya berubah di lapangan, tetapi juga di ruang taktik. Di balik banyak pelatih muda yang kini menonjol di klub-klub besar Eropa, ada satu benang merah yang sulit diabaikan. Pengaruh Pep Guardiola.
Guardiola, yang kini membesut Manchester City, telah menciptakan lebih dari sekadar tim pemenang trofi. Dia membangun sekolah sepak bola modern – tempat ide, detail, dan filosofi permainan dipelajari, diadaptasi, lalu diteruskan oleh mereka yang pernah berada di bawah bimbingannya.
Xabi Alonso dan pelajaran tentang melihat sebelum melihat. Xabi Alonso, yang bekerja bersama Guardiola selama tiga musim di Bayern Munich (2014-2017), menggambarkan masa itu sebagai fase pembelajaran paling intens dalam karirnya.
“Saya meninggalkan Real Madrid (pada 2014) untuk mempelajari rahasia Pep. Dia membuat kami para pemain merasa seperti kami tahu lawan lebih baik daripada mereka tahu diri mereka sendiri. Pep benar-benar di depan waktunya,” kata Alonso.
Kini, Alonso menerapkan prinsip itu di Bayer Leverkusen, tim yang dia ubah menjadi kekuatan dominan Bundesliga. Seperti gurunya, Alonso menekankan penguasaan ruang, pemanfaatan ritme, dan kecermatan membaca permainan.
Gaya bermain Leverkusen menjadi cermin dari filosofi Pep yang telah bertransformasi di tangan generasi baru.
Vincent Kompany, kapten Manchester City antara 2016 hingga 2019, menjadi saksi langsung revolusi taktik Guardiola di Premier League.
“Selama tiga tahun saya memiliki kelas master setiap hari. Perhatiannya terhadap detail, bagaimana dia mempersiapkan kita, itu unik. Pep melihat sesuatu sebelum orang lain,” papar Vincent Kompany.
Kini Kompany melanjutkan warisan itu sebagai pelatih Bayern Munich. Meski pendekatannya masih berkembang, jejak Pep jelas terlihat dalam usahanya membangun tim yang berbasis pada penguasaan bola dan keberanian bermain dari belakang.
Mikel Arteta bekerja sebagai asisten Guardiola di Manchester City antara 2016 dan 2019. Periode di mana City mendefinisikan ulang sepak bola Inggris.
“Bekerja di bawah Pep seperti pergi ke universitas sepak bola,” kata Arteta.
“Setiap hari, dia menuntut agar Anda berpikir lebih dalam, untuk melihat hal-hal yang tidak dilihat orang lain,” imbuh Arteta.
Kini sebagai manajer Arsenal, Arteta menerjemahkan pelajaran itu menjadi sistem permainan presisi tinggi, berbasis kontrol, tetapi tetap fleksibel. Dalam banyak aspek, Arsenal hari ini tampak seperti refleksi muda dari City era Pep, bukan sebagai tiruan, melainkan hasil evolusi alami seorang murid yang menemukan gayanya sendiri.
Luis Enrique, yang melatih Barcelona B saat Pep menjadi pelatih kepala Barcelona (2008-2011), menegaskan bahwa keduanya berasal dari DNA yang terinspirasi Johan Cruyff. Namun, dia mengakui satu hal penting: Guardiola melangkah lebih jauh.
“Pep mengubah sepak bola, dan dia mengubah cara saya melihat sepak bola. Setelah bekerja dengannya dan menonton timnya, Anda tidak dapat kembali ke apa yang Anda lakukan sebelumnya,” ucap Enrique.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
