Chelsea mengalahkan Benfica, tetapi Maresca jauh dari warisan Mourinho (Foto ig mleemedia)
JawaPos.com - Stamford Bridge kembali menjadi panggung penuh emosi pada Selasa (30/9) malam kemarin. Chelsea meraih kemenangan 1-0 atas Benfica dalam laga Liga Champions, namun sorotan utama justru tertuju pada kembalinya Jose Mourinho, mantan manajer legendaris The Blues, yang kini menukangi klub asal Portugal tersebut.
Gol bunuh diri Richard Ríos pada menit ke-18 menjadi pembeda di laga yang sebenarnya berlangsung ketat. Bermula dari pergerakan Pedro Neto di sisi kanan, bola kirimannya mengarah kepada Alejandro Garnacho. Umpan silang pemain muda asal Argentina itu justru dibelokkan Ríos ke gawang sendiri, membuat Stamford Bridge bergemuruh.
Sejak menit awal, nama Mourinho bergema di tribun. Suporter Chelsea berdiri menyanyikan lagu pujian, mengingat delapan trofi, termasuk tiga gelar Liga Premier yang pernah ia persembahkan selama dua periode kepelatihan. Momen itu membuat suasana pertandingan terasa lebih dari sekadar fase grup Liga Champions.
Mourinho sendiri mencoba menanggapi dengan tenang. “Saya tidak memberi makan diri saya dengan kenangan, saya memberi makan diri saya dengan kemenangan,” katanya seusai laga. Namun, pria berusia 62 tahun itu juga tak menutup mata terhadap penghormatan yang diberikan publik London barat. “Saya berterima kasih kepada mereka. Orang-orang di Inggris punya budaya ini, mereka tidak melupakan siapa yang memberi mereka kebahagiaan.”
Di lapangan, Mourinho tetap menjadi sosok teatrikal. Ia sempat meniupkan ciuman ke arah fans Chelsea, menenangkan pendukung Benfica yang melempar benda ke Enzo Fernandez, bahkan berlari kecil menyingkirkan bola yang nyasar ke tengah lapangan. Gestur khas itulah yang membuatnya selalu jadi pusat perhatian, bahkan ketika hasil pertandingan tidak berpihak.
Meski meraih kemenangan, performa Chelsea di bawah asuhan Enzo Maresca masih jauh dari kata sempurna. Statistik menunjukkan mereka lebih banyak ditekan Benfica, yang nyaris menyamakan kedudukan lewat tendangan Dodi Lukebakio yang membentur tiang serta peluang Fredrik Aursnes di babak kedua.
Chelsea sendiri tampil dengan skuad termuda dalam sejarah Liga Champions mereka, rata-rata usia 24 tahun, imbas absennya sejumlah pemain kunci seperti Cole Palmer dan empat bek tengah. Joao Pedro yang baru pulih cedera hanya tampil setengah jam sebelum akhirnya dikartu merah, membuat Chelsea menyelesaikan laga dengan 10 pemain, pemain ketiga mereka yang diusir dalam empat pertandingan terakhir.
Namun, Maresca memilih melihat sisi positif. “Kami membutuhkan kemenangan ini. Kadang Anda harus belajar menang dengan cara yang buruk, seperti di menit-menit akhir. Ini bagian dari proses,” ujar manajer asal Italia itu.
Kekalahan ini menandai debut pahit Mourinho bersama Benfica di Liga Champions. Setelah sempat menang di laga perdananya melawan Rio Ave di liga domestik, ia kini menelan hasil minor di ajang Eropa. Rekornya di Stamford Bridge juga kian berat, setelah menang bersama Inter Milan pada 2010, ia gagal meraih kemenangan dalam tujuh kunjungan berikutnya.
Meski demikian, nama Mourinho tetap identik dengan Chelsea. “Saya akan selalu menjadi seorang Blues,” katanya sehari sebelum pertandingan. Ucapan itu mempertegas betapa ikatan emosionalnya dengan klub ini sulit terhapus, meski kali ini ia berdiri di sisi lawan.
Bagi Chelsea, tiga poin ini menjadi krusial setelah sebelumnya tumbang di tangan Bayern Munich pada matchday pertama. Hasil tersebut menjaga asa mereka di grup, sekaligus sedikit meredakan tekanan terhadap Maresca yang masih hidup dalam bayang-bayang warisan Mourinho.
Namun, perjalanan masih panjang. Penampilan yang belum stabil, rentetan kartu merah, serta cedera pemain kunci membuat pekerjaan rumah bagi Maresca semakin menumpuk. Ujian berikutnya bahkan lebih berat, menghadapi Liverpool, juara bertahan Liga Premier, di laga lanjutan kompetisi domestik.
Pada akhirnya, malam di Stamford Bridge kembali menegaskan satu hal, kemenangan Chelsea penting, tapi nama Mourinho tetap menjadi magnet utama. Publik boleh berpaling sejenak kepada Maresca dan para pemain muda, tetapi bayang-bayang “Special One” akan selalu membayangi tribun dan lorong stadion yang pernah ia kuasai.

Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Media Jerman Pusing Lihat Ngerinya Performa Veda Ega Pratama di Sesi Practice Moto3 Hungaria 2026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Eksklusif! Perjuangan Nyo Daftar Player Escort Sejak 2024, Menangis Haru Dipeluk Nathan Tjoe-A-On di Timnas Indonesia
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
