Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 16 Juni 2025 | 04.53 WIB

Diincar Atletico Madrid, Alejandro Garnacho Terancam Tertahan di Manchester United Karena Faktor ini!

Alejandro Garnacho dan Erik ten Hag. (Dok. Manutd.com) - Image

Alejandro Garnacho dan Erik ten Hag. (Dok. Manutd.com)

JawaPos.com - Drama transfer musim panas semakin panas dengan nasib Alejandro Garnacho yang kini terjebak dalam labirin rumit di Manchester United. Pemain sayap Argentina berusia 20 tahun ini dilaporkan sudah putus hubungan total dengan pelatih Ruben Amorim, namun pintu keluar dari Old Trafford malah semakin tertutup rapat.

Pasalnya, United nekat memasang banderol fantastis 70 juta Pounds untuk melepas sang wonderkid. Angka ini membuat klub-klub yang tertarik, termasuk Bayer Leverkusen pimpinan Erik ten Hag, mundur teratur dan menyatakan deal tersebut "sangat tidak mungkin" terwujud. Dalam dunia transfer yang penuh kalkulasi bisnis, nasib seorang pemain muda berbakat bisa saja tergantung pada angka-angka di atas kertas.

Sebelum membahas rumitnya situasi transfer Garnacho, mari kita telusuri bagaimana konflik internal di United sampai membuat sang pemain ingin hengkang dari klub yang membesarkan namanya.

Hubungan Alejandro Garnacho dengan Ruben Amorim memang sudah seperti benang kusut yang sulit diurai. Konflik keduanya bermula dari keputusan kontroversial Amorim yang tidak memasukkan Garnacho ke starting XI dalam final Europa League melawan Tottenham Hotspur. Keputusan ini tidak hanya mengecewakan Garnacho, tapi juga memicu reaksi keras dari pihak keluarganya.

Kakak sekaligus agen Garnacho langsung meledak di media sosial, mengkritik habis-habisan keputusan Amorim. Garnacho sendiri tidak tinggal diam dan mempertanyakan keputusan pelatihnya dalam wawancara pasca-pertandingan. Sikap ini tentu saja membuat Amorim murka besar. Dilaporkan, pelatih asal Portugal itu bahkan sampai mengatakan kepada Garnacho di depan seluruh skuad bahwa dia "lebih baik berdoa" bisa menemukan klub baru musim panas ini.

Pernyataan keras Amorim ini menunjukkan bahwa relationship antara keduanya memang sudah broken beyond repair. Meski begitu, Garnacho masih tetap diikutsertakan dalam tur pra-musim United ke Asia, menandakan bahwa secara profesional, kedua pihak masih berusaha menjaga situasi tidak semakin explode.

Performa Garnacho musim 2024-25 sebenarnya cukup impresif untuk ukuran pemain seusianya. Dia berhasil mencatatkan 11 gol dan 10 assist dalam 58 pertandingan di semua kompetisi. Total kontribusinya selama berkarier di United mencapai 26 gol dan 22 assist dalam 144 penampilan - statistik yang sangat menjanjikan untuk pemain berusia 20 tahun.

Prestasi ini yang membuat United berani memasang harga 70 juta Pounds untuk melepas Garnacho. Namun, strategi pricing ini justru menjadi bumerang karena membuat klub-klub potensial mundur teratur. Bayer Leverkusen, yang sempat menjadi kandidat kuat dengan kehadiran Erik ten Hag sebagai pelatih baru, kini menyatakan bahwa deal tersebut "sangat tidak mungkin" terealisasi.

Menurut jurnalis Florian Plettenberg, operasi finansial yang "immense" membuat Leverkusen tidak melihat deal ini sebagai sesuatu yang feasible. Padahal, klub Jerman itu baru saja meraup 100 juta Pounds dari penjualan Florian Wirtz ke Liverpool, dan Garnacho sempat dipandang sebagai pengganti ideal untuk pemain Jerman tersebut.

Keputusan Leverkusen ini cukup mengejutkan mengingat mereka punya dana segar dari hasil penjualan Wirtz. Namun, tampaknya kombinasi antara asking price United yang tinggi dan tuntutan gaji Garnacho yang besar membuat klub Bundesliga itu berpikir dua kali. Ini menunjukkan bahwa meski punya uang, Leverkusen tetap menerapkan prinsip business yang prudent.

Erik ten Hag, yang baru saja menggantikan Xabi Alonso di BayArena, tampaknya tidak akan reunite dengan pemain yang pernah dia latih di United. Padahal, kolaborasi keduanya di masa lalu cukup produktif dan ada ekspektasi bahwa mereka bisa bekerja sama lagi dengan chemistry yang sudah terbangun.

Situasi Garnacho semakin kompleks karena dia dilaporkan tidak terlalu tertarik dengan opsi Bundesliga. Sebaliknya, pemain muda ini justru melirik salah satu rival Big Six United sebagai destinasi utamanya. Ini tentu saja akan membuat situasi semakin awkward jika sampai terealisasi, mengingat sensitivitas transfer antar klub rival di Premier League.

Tim-tim Italia juga dilaporkan sedang monitoring perkembangan situasi Garnacho dengan seksama. Serie A memang terkenal sebagai liga yang ramah terhadap pemain-pemain muda berbakat, dan gaya permainan yang lebih tactical bisa cocok dengan karakteristik Garnacho.

Di sisi lain, United sendiri sudah mulai preparing untuk kemungkinan kehilangan Garnacho. Mereka sudah mendatangkan Matheus Cunha dari Wolverhampton Wanderers untuk memperkuat lini serang, dan masih dalam perburuan Bryan Mbeumo dari Brentford. Meski begitu, kompetisi untuk Mbeumo semakin ketat dengan masuknya Tottenham sebagai kompetitor serius, apalagi dengan perpindahan Thomas Frank ke North London.

Ironi dari situasi ini adalah United mungkin akan stuck dengan pemain yang sudah tidak happy, sementara Garnacho juga terpaksa harus bertahan di lingkungan yang tidak kondusif. Harga 70 juta yang dipasang United memang mencerminkan potensi besar Garnacho, tapi di sisi lain juga bisa menjadi penghalang bagi kariernya untuk berkembang.

Editor: Hendra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore