
Michu, salah satu fenomena unik di Premier League. (sport.optus.com.au)
JawaPos.com - Membahas tentang one season wonder, mungkin nama Michu menjadi nama yang bisa paling sering disebut. Pada 2012 silam, Michu yang saat itu bukanlah pemain yang begitu dikenal didatangkan Swansea dari Rayo Vallecano.
Selama membela klub LaLiga tersebut, Michu baru mencetak 15 gol dalam satu musim di Spanyol. Ketika itu, Swansea yang memasuki musim kedua mereka di Premier League diperkirakan harus berjuang ekstra setelah ditinggal Gylfi Sigurðsson, namun datangnya Michu rupanya memberi mereka harapan untuk bersaing di liga utama Inggris tersebut.
Ketika debut di Premier League, Michu hanya membutuhkan delapan menit hingga dia mencetak gol debutnya ketika melawan QPR. Saat itu, Michu langsung tampil mengensankan bersama The Swans.
"Kami menang 5-0 melawan QPR, saya mencetak dua gol dan memberikan satu assist. Saya ingat perjalanan pulang dan mengatakan tidak begitu sulit untuk menang tandang," kata Michu kepada PL Stories di Optus Sport.
"Pertandingan kedua di kandang, kami menang 3-0 melawan West Ham, saya mencetak gol lagi, dan setelah itu kami bermain melawan Sunderland di kandang dan saya mencetak gol lagi. Itu adalah musim terbaik saya dalam karier saya pada musim pertama di Swansea," ujarnya lagi.
Setelah berhasil mencetak gol dalam tiga pertandingan pertamanya di Liga Inggris, Michu menyelesaikan musim di liga dengan torehan 18 gol, dimana dua gol diantaranya dia cetak ketika melawan Arsenal dan Manchester United.
Yang paling penting, pemain Spanyol yang tinggi itu juga spearhead kemenangan bersejarah Swansea di Piala Liga saat dia mencetak gol penting di semifinal dan final.
"Dia bukan benar-benar nomor sembilan atau nomor 10, dia hanya sesuatu yang berbeda. Dia mengumumkan dirinya ke Liga Premier seperti yang dapat dilakukan oleh beberapa orang lainnya," kata mantan rekan setimnya di Swans, Ashley Williams.
"Saya pikir Michu adalah bagian yang sangat besar dari apa yang kami lakukan di lapangan, jadi kesuksesan kami, dan juga fakta bahwa betapa banyak orang yang tampaknya menyukai cara dia bermain. Begitu banyak orang yang datang kepada saya sekarang dan berbicara tentang Michu."
Usai musim pertamanya yang begitu mengagumkan, momen Michu di Swansea merosot tajam pada musim keduanya setelah sang pemain mengalami cedera pergelangan kaki ketika melawan Cardiff City.
Dia tidak mencetak gol lagi untuk Swansea, dan menolak minat dari klub Inggris lainnya hingga pindah ke divisi ketiga Spanyol pada akhir 2015. Itu adalah awal dari akhir bagi Michu sebagai pesepakbola, dan Michu masih merasakan sakit dari cedera yang mengakhiri kariernya hingga hari ini.
"Setiap hari, ketika saya bangun pagi, saya merasakan sakit yang paling buruk. Tetapi setiap langkah, saya merasakan sedikit," katanya.
"Saya ingat pertandingan Cardiff, itu adalah derby di Wales, ada benturan. Saya pikir hari ini, itu mengakhiri karier saya.
"Saya mencoba untuk memperbaiki pergelangan kaki tetapi saya tidak bisa. Saya menjalani tiga, empat operasi lagi tetapi itu tidak berhasil dan saya masih merasakan sakit.
"Saya mendapat tawaran dari Aston Villa tetapi menandatangani kontrak dengan Langreo di divisi ketiga di Spanyol. Saya mengatakan tidak kepada Aston Villa karena, sejujurnya, dengan saya dan sepak bola, saya merasakan banyak rasa sakit di pergelangan kaki kanan saya.
