Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 3 Januari 2025 | 17.53 WIB

Sejarah Rangers Vs Celtic Disebut Derby”Old Firm”, Tidak Hanya Rivalitas Lapangan Tapi Agama dan Politik

fans Rangers menyalakan flare pada derby "old frim". (independent.co.uk) - Image

fans Rangers menyalakan flare pada derby "old frim". (independent.co.uk)

JawaPos.com- Derby Old Firm adalah salah satu rivalitas paling terkenal dalam sepak bola dunia, mempertemukan dua klub terbesar Skotlandia, Celtic dan Rangers. Pertandingan ini tidak hanya menjadi tontonan olahraga, tetapi juga menggambarkan dinamika politik, dan agama di Glasgow, Skotlandia.

Asal-usul nama old firm sendiri belum jelas, namun ada beberapa versi yang tertulis. Mengutip dari goal.com istilah "Old Firm" pertama berasal dari pertandingan antara Celtic dan Rangers pada 28 Mei 1888, di mana komentator menyebut kedua tim sebagai "like two old, firm friends".

Kedua, nama old firm mungkin berasal dari kartun satir yang diterbitkan oleh surat kabar olahraga “The Scottish Referee” sebelum final Piala Skotlandia 1904 antara kedua tim, yang menggambarkan seorang pria tua dengan papan iklan bertuliskan "Patronise The Old Firm: Rangers, Celtic".

Celtic dan Rangers adalah rivalitas tim yang tidak lepas dari unsur agama sebagai identitas erat masing-masing klub. Celtic sendiri didirikan pada tahun 1888 oleh Brother Wilfrid seorang biarawan Katolik Irlandia di Glasgow, Skotlandia. Sementara sang rival Rangers didirikan terlebih dahulu yaitu pada tahun 1872 dengan basis Protestan.

Gambaran rivalitas kedua tim ini tidak hanya di stadion tapi juga di kehidupan sosial, seperti contoh Imigran Irlandia yang kebanyakan adalah pemeluk Katolik justru jadi sasaran risak orang-orang Skotlandia yang mayoritas Protestan. Mereka jadi target diskriminasi hidup mereka dipersulit, dibikin sengsara.

Pada masa sulit ini Celtic yang muncul ke permukaan membawa semangat kolektif komunitas Katolik, tulis Matt Gaul dalam “A Tale of One City: Glasgow” yang dipublikasikan These Football Times.

Dalam sejarah klub Rangers juga tercatat, selama satu abad lebih mereka menolak untuk mendatangkan pemain beragama Katolik. Namun, kebijakan tersebut akhirnya gugur setelah Rangers merekrut Maurice Johnson yang beragama Katolik pada tahun 1989.

Rivalitas kedua tim ini tidak hanya membawa agama namun dari segi politik juga. Rangers merupakan pendukung dari kerajaan Inggris Raya dan Celtic sering dikaitkan dengan anti kerajaan Inggris yang keinginan membangun Republik Irlandia.

Rivalitas panas ini juga berdampak pada pemain maupun pelatih. Neil Lennon, pelatih Celtic pada 2010-2014 yang juga seorang Katolik serta berasal dari Irlandia Utara sering menerima paket berisi peluru. Pengirim diduga kuat berasal dari kelompok pendukung Rangers yang Protestan.

Mengutip The Guardian, dari keseluruhan kasus yang dicatat 80% di antaranya ditujukan kepada kelompok Katolik. Seorang pakar kriminologi dari Universitas Glasgow, Susan Wiltshire menjelaskan ada dua faktor mengapa kelompok Katolik kerap jadi target diskriminasi. Pertama, mereka tinggal di daerah yang secara ekonomi lebih miskin. Kedua, sentimen yang sudah mendarah daging.

“Perseteruan Katolik-Protestan yang sering muncul di pertandingan Celtic-Rangers begitu tertanam kuat secara struktural di masyarakat Skotlandia. Itu adalah sesuatu yang harus ditangani di berbagai tingkatan secara konsisten dan sistematis,” ungkapnya. 

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore