
Pendukung Hertha BSD dan Union Berlin menyesaki Olympiastadion, Berlin, pada Sabtu (28/1) pada laga pekan ke-18 Bundesliga. Foto: Dinarsa Kurniawan/JawaPos.com
Rot und Weiss sind Die Farbe von Berlin (merah dan putih adalah warna Berlin). Begitu caption yang tertulis di salah satu unggahan di akun Instagram tim sepak bola 1. FC Union Berlin mengiringi foto yang menggambarkan para pemain Union yang berselebrasi di depan para pendukungnya yang datang ke Olympiastadion, Berlin.
Mereka baru saja memenangkan Derby-Berlin melawan rival sekotanya, Hertha Berliner-Sport Club (BSC) pada Spieltag ke-18 Bundesliga musim ini. Pada laga yang dimainkan di Olympiastadion pada Sabtu (29/1) itu, tim berjuluk Die Eisern (Besi) itu mampu mengalahkan Die Alte Dame (Si Nyonya Tua) 2-0 di kandang lawan. Mereka pun layak membanggakan diri dengan sebutan Stadtmeisterschaft alias penguasa kota.
Kemenangan itu membuat Union terus menempel ketat penguasa klasemen sementara, Bayern Muenchen, yang pada partai di hari yang sama kontra Eintracht Frankfurt hanya mampu bermain imbang 1-1. Hasil tersebut membuat Bayern mengoleksi 37 poin dari 18 laga, sedangkan Union mengumpulkan 36 poin dari pertandingan yang sama.
Sebaliknya, bagi Hertha, hasil tersebut kian membenamkan mereka di papan bawah klasemen. Klub dengan warna kebesaran Biru-Putih itu hanya mengoleksi 14 poin dari 18 laga. Berada di urutan ke 17 dari 18 tim peserta Bundesliga. Bahkan, kekalahan itu membuat mantan pemain Timnas Jerman, Ferdi Bobic, dipecat dari jabatannya sebagai direktur olahraga Hertha BSC.
Lepas dari posisi kedua tim di klasemen sementara Bundesliga, bagi warga Ibu Kota Jerman itu, laga antara Union kontra Hertha bukan sekadar pertandingan biasa. Melainkan adu gengsi antara kedua klub dan para pendukungnya. Membagi Berlin literally menjadi Barat dan Timur.
Apalagi, persaingan kedua tim tak lepas dari bumbu politik yang merentang jauh hingga ke era pasca Perang Dunia II. Dimana saat itu Berlin dipisahkan oleh tembok yang membagi kota tersebut menjadi dua wilayah. Hertha adalah representasi dari Jerman Barat, mengingat klub tersebut didirikan di Distrik Charlottenburg-Wilmesdorf yang berada di Berlin bagian barat. Sebaliknya, Union mempresentasikan Jerman Timur, karena didirikan di Distrik Treptow-Koepenick yang berada di Berlin bagian barat.
Hertha sendiri sejak dulu diasosiasikan sebagai klub yang mapan dengan para pendukung yang juga warga menengah ke atas di wilayah Berlin barat yang memang secara umum lebih makmur. Sedangkan Union memiliki basis fans dari kalangan working class. Hal itu tak lepas dari sejarah mereka yang banyak didukung oleh buruh pabrik di awal-awal pendiriannya.
Saya beruntung punya kesempatan menyaksikan langsung partai penuh gengsi tersebut. Laga yang menyajikan atmosfer rivalitas kental. Stadion berkapasitas sekitar 74 ribu tempat duduk itu tampak penuh tanpa celah. Fans tuan rumah yang menguasai Olympiastadion terus bergemuruh meneriakkan chant dan menyuguhkan koreo raksasa untuk mendukung klub kebanggan mereka. Para fans Union yang banyaknya hanya sekitar 20 persen dari kapasitas stadion tak gentar. Mereka mengibarkan bendera, meneriakkan chant, serta membakar flare, membuat kurva barat yang mereka tempati tampak semarak.
Tak jauh dari tempat duduk saya, tampak seorang fan Union dengan atribut lengkap “terperangkap” di tengah kerumunan suporter fanatik Hertha. Mau tak mau, dia pun harus rela diteriaki oleh pendukung tim tuan rumah. ’’Aus, aus (ausziehen/lepas, lepas, Red),’’ teriak seorang fan Hertha sambil menunjuk ke arah fan Union itu. Yang diteriaki hanya menoleh, tersenyum, dan menganggat bahu sambil bilang, ’’Das ist Fussball. Ganz normal (ini sepak bola. Ini normal).’’
Namun, hanya sebatas itu saja psywar yang diterimanya akibat “salah posisi duduk.” Tidak ada kekerasan fisik yang diterimanya. Begitu juga dengan para fan Union lainnya yang datang saat itu. Tak ada aksi kekerasan yang dialamatkan oleh suporter tuan rumah. Mereka pun bisa pulang dengan damai. Bahkan banyak di antara mereka yang menumpangi gerbong kereta yang sama, setelah sebelumnya sama-sama mengantre untuk jajan curry wurst dan bir.
Acungan jempol pun patut diberikan kepada fans Hertha yang terus memberikan dukungan kepada tim kebanggannya. Tak ada aksi brutal, apalagi sampai masuk ke lapangan. Padahal, pertandingan panas itu hanya dijaga oleh barisan steward mulai ring satu sampai di dalam area stadion. Polizei (polisi) hanya berjaga di stasiun U-Bahn (kereta bawah tanah) dan S-Bahn (kereta jalur atas) sampai ke area terluar stadion.
Seperti yang dibilang oleh superter Union yang terperangkap di antara fans Hertha. Ya, ini semua adalah sepak bola. Rivalitas dan psywar adalah hal yang normal. Tapi, selebihnya mereka adalah warga kota biasa, sama seperti penduduk Berlin lainnya.
Slogan rivalitas hanya 90 menit benar-benar diaplikasikan oleh para pendukung kedua tim. Benar-benar dewasa. Suatu hal yang perlu menjadi pelajaran untuk para fans sepak bola di Indonesia, yang kerap kali atas nama rivalitas terjadi kekerasan, bahkan pertumpahan darah. (*)

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
