
Franz Beckenbauer bersama legenda Argentina, Diego Maradona pada 1978
JawaPos.com-Legenda sepak bola Jerman, Franz Beckenbauer, meninggal dunia pada usia 78 tahun pada Minggu (7/1) waktu setempat, namun, keluarganya baru mengumumkan kabar itu pada Senin (8/1). Dilansir dari DW, keluarga Beckenbauer mengelilinginya saat sang maestro mengembuskan napas terakhir.
Kepergian pria berjuluk Der Kaiser (Sang Kaisar) itu tentu menyisakan duka mendalam bagi dunia sepak bola Jerman. Sebab, dia turut membawa tim nasional Jerman (dulu Jerman Barat) mendominasi panggung sepak bola dunia.
’’Keluarga Bundesliga sangat terpukul mengetahui kematian Franz Beckenbauer. Sebuah ikon sejati, dulu, sekarang, dan selamanya. Rest in Peace, Der Kaiser,’’ tulis Bundesliga di akun X mereka sesaat setelah kabar kematian Beckenbauer menyebar.
Sebagai pemain, pria kelahiran Muenchen, 11 September 1945 itu sukses membawa negaranya meraih trofi juara Piala Dunia 1974 dan Pialan Eropa 1972. Kemudian sebagai pelatih, dia membawa anak-anak didiknya merengkuh trofi Piala Dunia 1990 di Italia.
Kesuksesan Beckenbauer membuatnya jadi figur elite di perhelatan Piala Dunia. Dia jadi salah satu dari tiga orang yang sukses mengangkat trofi Piala Dunia sebagai pemain dan pelatih (dua tokoh lainnya adalah Mario Zagallo/Brasil dan Didier Deschamps/Prancis).
Tidak hanya itu, pada level klub, dia berhasil memenangi Piala Champions (sekarang Liga Champions) sebanyak tiga kali pada 1974, 1975, dan 1976 bersama Die Rotten (Si Merah, julukan FC Bayern Muenchen). Menjuarai Piala Winners sekali pada 1967 (Bayern Muenchen), dan PialaToyota (sekarang Piala Dunia Antar-klub) sekali pada 1976 (Bayern Muenchen).
Kemudian, pada level domestik, pria yang semasa bermain menempati posisi libero itu menjadi juara Bundesliga empat kali bersama Bayern Muenchen (1969, 1972, 1973, 1974) serta sekali saat berkostum Hamburger SV (1982). Tak hanya itu, dia juga menjuarai DFB Pokal pada 1966, 1967, 1969, 1971 saat berseragam Bayern Muenchen.
Saat bertualang ke Liga Sepak Bola Amerika Utara bersama New York Cosmos, dia tetap panen prestasi dengBerian membawa klubnya menjadi juara pada 1977, 1978, dan 1980. Tak heran, jika kehebatannya itu membuahkan prestasi individu bagi dirinya. Dia dianugerahi gelar Ballon d’Or pada 1972 dan 1976, kemudian juga mendapatkan predikat pemain sepak bola terbaik Jerman abad ini pada 2000.
Bukan hanya publik Jerman yang mencintainya, lawan-lawannya pun menaruh respek setinggi-tingginya. Salah satunya adalah legenda Manchester United, Sir Bobby Charlton yang baru meninggal pada Oktober 2023 lalu. ’’Dia adalah pemain yang hebat, selalu positif, cepat, dan selalu berbahaya. Dia adalah pemain paling berbahaya yang dimiliki Jerman,’’ terang Sir Bobby semasa hidup seperti dilansir dari DW. ’’Dia bisa melakukan hal-hal luar biasa dengna kepetan, kontrol, dan kemampuannya,’’ imbuhnya.
Ruhe in Frieden, Kaiser. Auf Wiedersehen!

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
