
LAYAK DIABADIKAN: Pengunjung memotret Musikal Kebangsaan karya Sujiwo Tejo yang dipamerkan di Gedung Nasdem Tower. (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)
Sujiwo Tejo Peringati Enam Dekade lewat Pameran
Budayawan Sujiwo Tejo membuat gebrakan dalam pameran seni rupa. Tejo melakukan hal yang tak biasa dengan menggelar pameran tunggal di kantor partai politik. Dalam merayakan usianya yang ke-60 tahun, seniman multitalenta itu memamerkan 15 karya lukisnya di Gedung Nasdem Tower Jakarta yang juga kantor DPP Partai Nasdem.
---
LUKISAN berbagai tema itu ditempatkan di ballroom mewah Nasdem Tower yang baru saja selesai dibangun. Walaupun karyanya dipamerkan di markas partai, pesan lukisan tersebut tidak berisi puja-puji untuk elite partai, tapi justru mengandung kritik sosial.
Misalnya, karya Jeruk-Jeruk Politik: Ada Makan Siang Gratis? Lukisan itu jelas merupakan sindiran terhadap fenomena politik saat ini. Kritik politik juga terdapat dalam lukisan yang bertema Semar. Semar memang tidak bisa dilepaskan dari Tejo. Ada empat lukisan Semar. Yaitu, Pangeling-eling Semar to Pamong Nagari, Semar Meong, Semar in Waiting Room, dan Semar Moksa.
Tejo mengatakan, dirinya sangat menyenangi Semar. Sebab, sembahyang yang dilakukan Semar tidak menggunakan tempat maupun waktu khusus. Sembahyang dilakukan sepanjang waktu dan seluas bumi. Tangis dan tawanya bagian yang diniatkan sebagai sembahyang. ”Berjalannya, tidurnya, semua dalam rangka sembahyangnya,” kata Tejo.
Bayangkan, kata Tejo, jika polisi dan semua anggota DPR melakukan sembahyang seperti Semar, ketika melakukan penangkapan dan penyidikan, saat memimpin sidang di DPR, semua adalah bagian sembahyang. ”Tidak kok saat tertentu sembahyang di rumah ibadah, di luar itu korupsi,” tutur Tejo.
Karya lain yang menyita perhatian adalah Musikal Kebangsaan. Lukisan yang paling besar di antara lukisan lain itu diletakkan di atas panggung. Dalam lukisan hitam putih tersebut terdapat kalimat yang bisa menjadi renungan bagi elite di negeri ini. ”Jangan kau muluk-muluk bicara tentang kemerdekaan bila tak punya waktu luang. Hanya dalam waktu luang, manusia bisa merenung tentang bagaimana seyogianya mengisi kemerdekaan dengan bukan sampah,” demikian bunyi tulisan itu.
Menurut Tejo, secara keseluruhan apa yang ingin disampaikan melalui 15 karya yang dipamerkan adalah seperti yang ditulis dalam Musikal Kebangsaan. Intinya, Tejo sangat jengah dengan gerakan politik yang tidak berbudaya di negeri ini.
Kurator pameran Mikke Susanto mengatakan, kali ini Tejo melukis dengan gagasan yang lebih membumi. Narasi karya-karyanya kini semakin jelas. Karya tersebut dilatari dengan gagasan dan payung kejadian politik negeri.
Tejo ingin memberi warna estetika dalam kegiatan politik di tanah air. Wajar bila hal itu terjadi karena Tejo sering sekali tampil bersama politisi di depan publik. Baik secara langsung maupun melalui media massa.
Menurut dosen ISI Jogja itu, hal tersebut bertujuan agar sikap politisi tidak semata pada hasil, tetapi juga melakukan proses kerja politik yang sastrawi. Proses menjalani kehendak politik perlu dibarengi dengan performa yang sarat makna dan estetis bagi masyarakat.
Untuk itulah, ketika Tejo bertemu dengan Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh, keinginannya berkarya semakin menggebu. ”Saya doakan ST (Sujiwo Tejo) dapat bertemu dengan para ketua umum partai lainnya untuk memberi kesadaran estetis dalam berpolitik,” ujar Paloh.
Secara teknis, lukisan-lukisan Tejo telah memenuhi standar profesional. Kanvas yang dipakai berjenis linen Eropa dengan spanraam yang bagus. Sementara itu, cat akrilik yang dipakainya kali ini berlabel Winsor & Newton. Tidak lupa pula, pernis yang dipakainya untuk finishing lukisan juga merek yang sama ditambah merek Liquitex dengan mode permukaan satin.
Sedangkan secara visual, dilihat dari goresan, warna, dan bentuk abstraksi yang dibuatnya, semua lukisan Tejo kali ini memiliki strata yang sama. Lebih kurang, daya tarik goresan ala sketsa yang pernah dibuatnya tidak berbeda jauh. Semua lukisan pada pameran tunggal keempatnya itu sebanding dengan kerja visual lainnya.
Bahkan, lanjut Mikke, pada karya Musikal Kebangsaan sebagai puncak di antara kerja melukisnya yang lain, keliaran, anti-kemapanan, antibatas, dan selubung antarteks, garis, dan pigmen menjadi kesatuan yang mencitrakan kausalitas antardunia dan bidang studi. ’’Lukisan itu berhasil merangkai perbedaan sekaligus merangkai keliaran,” papar Mikke.
Photo
PENANDA PENTING: Karya Sujiwo Tejo berjudul Gedung Peradaban merupakan satu dari belasan karya yang dipamerkan. (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)
Menariknya, lukisan tersebut tidak mengungkap hal-hal atau ide yang bersifat verbal. Pola kreatif simbolik tetap dikedepankan. Munculnya simbol partai berbentuk lingkaran biru dengan dua siluet bulan sabit kuning diartikulasi bukan semata yang ada dalam Panduan Ketetapan Identitas Grafis yang dikeluarkan Partai Nasdem. Jelas sekali, Tejo mendekonstruksi dan mengembangkannya lebih jauh.
Anggota Majelis Tinggi Partai Nasdem Lestari Moerdijat mengapresiasi lukisan Tejo. Rerie, sapaan akrab Lestari Moerdijat, mengatakan, pameran lukisan di kantor partai adalah salah satu keberanian Tejo. ’’Ketika banyak seniman justru beranggapan bahwa kalangan politisi harus dijauhi, apalagi kepercayaan publik pada partai politik berada di titik nadir,” ujar Rerie.
Kehadiran pameran itu menegaskan bahwa Tejo mampu melihat dan memberi ruang bagi kalangan politisi untuk mengapresiasi seni dan berpolitik dengan budaya. Kritik dan sudut pandang yang berbeda di setiap karyanya kerap menjadi pengingat dan membangkitkan kesadaran.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Resmi Pindah ke Bali! Derby Jawa Timur Arema FC vs Persebaya Surabaya Digelar di Stadion Kapten I Wayan Dipta
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi Sebut Ada 3 Lokasi untuk Pembangunan Koperasi Merah Putih
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
