Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 16 November 2023 | 13.12 WIB

Raden Saleh, Pelukis era Belanda Yang Miliki Nasionalisme lewat Karya Penangkapan Pangeran Diponegoro

Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh. - Image

Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh.

JawaPos.com - Raden Saleh merupakan pelukis Jawa pertama yang bersentuhan dengan nilai-nilai barat. Pemilik nama lengkap Raden Saleh Syarif Bustaman itu dianggap sebagai pelopor seni lukis modern era Nusantara atau sebelum Indonesia merdeka.

Salah satu mahakarya sang maestro itu berjudul Penangkapan Pangeran Diponegoro. Lukisan itu dibuat Raden Saleh saat masih menjabat sebagai pelukis Kerajaan Belanda.

Lukisan tersebut menggambarkan peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro pada 28 Maret 1830 di rumah Residen Kedu di Magelang. Melihat dari karyanya, peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro dan pasukannya terjadi pada bulan Ramadan. Hal itu ditandai dengan tidak adanya keris yang merupakan senjata khas Pangeran Diponegoro yang biasa terselip di pinggang.

Dilansir dari laman Setkab.go.id disebutkan bahwa dalam ajaran Islam selama bulan Ramadan umat Muslim dilarang untuk berperang. Dan, Pangeran Diponegoro pun tidak berperang. Bahkan Pangeran Diponegoro beserta pasukannya sebenarnya sudah berniat untuk menyambut tawaran berunding terkait gencatan senjata. Namun, dia dikhianati oleh Belanda yang berujung dengan penangkapan dirinya.

Pangeran Diponegoro dilukiskan Raden Saleh sebagai seorang pejuang muslim dengan mengenakan pakaian ulama berupa sorban, baju koko, jubah, selempang di bahu kanan, dan tasbih terselip di pinggang.

Sementara itu, keris pusaka Kanjeng Kyai Ageng Bondoyudo milik Pangeran Diponegoro tidak terlihat. Posisi Pangeran Diponegoro dalam lukisan itu digambarkan dengan gestur berdiri tegak, dada membusung, dan ekspresi wajah dengan mata tegas menatap Jenderal de Kock.

Bahasa tubuh itu mencerminkan bahwa Pangeran Diponegoro adalah pejuang yang kuat, berani, dan tidak takut kepada petinggi Belanda.

Raden Saleh menempatkan Jenderal de Kock berada di sebelah kiri Pangeran Diponegoro. Hal tersebut dalam budaya jawa menyimbolkan bahwa pejabat Belanda berada di posisi kedua.

Dalam lukisan itu, postur tubuh orang Belanda digambarkan secara tidak proporsional. Tinggi postur orang-orang Belanda juga dibuat sejajar dengan tinggi orang pribumi. Melalui gambaran itu Raden Saleh menyiratkan bahwa orang Belanda sebagai penjajah yang angkuh.

Lukisan penangkapan Pangeran Diponegoro oleh Raden Saleh sejatinya adalah tandingan dari karya yang serupa milik Nicolaas Pieneman. Hanya saja kedua pelukis itu menggunakan sudut pandang yang berbeda dalam berkarya. Sehingga setiap karyanya terdapat interpretasi yang berbeda.

Tujuan lukisan Pieneman adalah sebagai catatan peristiwa penting dalam sejarah administrasi pemerintahan Hindia Belanda. Penangkapan Diponegoro dianggap sebagai peristiwa besar karena perang yang dipimpinnya telah menguras waktu, korban, dan keuangan Hindia Belanda.

Lukisan Pieneman menggambarkan sosok Pangeran Diponegoro sebagai seorang yang tidak berdaya. Tumpukan tombak yang berada di hadapan pasukan Diponegoro dianggap sebagai pertanda kekalahan perang.

Dari kedua lukisan itu jelas menampilkan kontras sudut pandang oleh masing-masing pelukis. Raden Saleh menghadirkan sosok Pangeran Diponegoro sebagai pejuang yang penuh semangat patriotisme. Sedangkan Pieneman memandang peristiwa penangkapan tersebut dalam perspektif kolonial. (*)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore