Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 3 Mei 2018 | 06.45 WIB

Bocah 10 Tahun Tewas Karena Sembako Maut di Monas, Ini Kronologisnya

Muhammad Fayyadh kuasa hukum Ibunda Korban memaparkan kronologi tewasnya Rizki bocah 10 tahun - Image

Muhammad Fayyadh kuasa hukum Ibunda Korban memaparkan kronologi tewasnya Rizki bocah 10 tahun

JawaPos.com - Niat ingin mendapat sembako gratis, nasib naas justru menimpa Komariah. Anak tercintanya Muhammad Rizki Saputra yang baru berumur 10 tahun harus meregang nyawa setelah dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan akibat berdesakan dengan masa di acara bertajuk Forum Untukmu Indonesia di Monas, Sabtu (28/4). 


Melalui kuasa hukumnya Muhammad Fayyadh, Komariah menceritakan kronologi kematian anaknya. Saat itu sekitar pukul 10:30 WIB korban bersama Ibunya tengah mengantri sembako gratis di Monas.


Berselang satu jam, antrian yang sebelumnya berjalan tertib berubah ricuh. Korban kemudian terlepas dari genggaman Ibunya hingga akhirnya terinjak-injak oleh pengunjung yang sudah tak terkendali.


Fayyadh juga menuturkan, saat itu dengan sekuat tenaga Komariah berusaha kembali meraih buah hatinya. Dengan kegigihannya Komariah pun berhasil mengeluarkan korban dari desakan massa. Buah hatinya saat itu masih sempat dibawa berteduh di bawah pohon yang ada di sekitaran Monas. 


Namun, Saat hendak memberikan pertolongan pertama kepada anaknya, muka korban terlihat pucat hingga akhirnya mulai muntah-muntah diiringi kejang-kejang.


“Saat diberi air minum pada saat itu muntah dan kejang-kejang," ungkap Fayyadh di Bareskrim Polri, Jakarta Pusat, Rabu (2/5).


Saat kejang-kejang, lanjut Fayyadh, Komariah kemudian berusaha meminta pertolongan kepada panitia yang berada didekatnya. Namun bukannya memberika  pertolongan, panitia itu malah tidak menggubris permintaan Komariah.


Pertolongan baru didapat korban saat dua orang aparat TNI melintas. Mereka membawa korban ke posko kesehatan di Monas. Namun masalah tak berhenti di situ. Sebab tidak adanya alat medis mengakibatkan korban tidak bisa mendapat pertolongan.


Berselang beberapa jam, korban akhirnya dibawa ke RSUD Tarakan menggunakan mobil Ambulan. Setelah mendapat perawatan intensif lebih dari 12 jam, korban akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada Minggu (29/4) sekitar pukul 04:35 WIB.


“Sampai di rumah sakit lalu dimasukan ke IGD. Di IGD dari jam 2 siang sampai jam 2 malam. Jam 2 malam dipindah ke ruang picu. Di ruang picu sampai pukul 4.35 dan meninggal dinyatakan oleh dokter," lanjut Fayyadh.


Fayyadh menuturkan, dalam surat kematian yang diterbitkan rumah sakit, tidak ada keterangan penyebab kematian korban. Oleh karena itu keluarga dan tim kuasa hukum dalam waktu dekat akan menyambangi RSUD Tarakan guna meminta kejelasan kepada dokter yang menangani korban. Namun dugaan keluarga karena korban meninggal karena terinjak-injak oleh ratusan ribu masa yang hadir.


“Kita akan datangi RSUD Tarakan untuk menemui Direktur RSUD terkait surat kematian yang dikeluarkan tidak mencantumkan penyebab kematiannya. Hanya surat pengantar kematian berisi identitas korban. Saya mau minta penjelasan dari RSUD dan dokter yang menangani," pungkas Fayyadh.


Editor: Dimas Ryandi
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore