
Ilustrasi petani rumput laut
JawaPos.com - Berdasarkan data Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia produksi rumput laut pada tahun 2013 mencapai 9,3 juta ton. Peningkatan terjadi pada 2014 menjadi 10,1 juta to. Kemudian pada tahun 2015 meningkat lagi menjadi 11,3 juta ton. Namun, terjadi penurunan pada tahun 2016 menjadi 11,1 juta ton, kemudian menurun lagi menjadi 10,8 juta ton pada tahun 2017.
Sayang, jumlah suplai rumput laut sebanyak itu tak diiringi industri hilirasasi rumput laut yang dibangun di dalam negeri. Ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) Rokhmin Dahuri menuturkan, berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan 87 persen rumput laut diekspor dalam keadaan kering atau euchema. Padahal apabila diolah menjadi karagenan maka rumput laut bisa menghasilkan lebih dari 500 produk.
"Tahun 2012 saya ke Korea, bangsa Korea bisa buat powder dari jenis rumput laut tertentu dan itu jadi bahan pelapis pesawat yang paling kuat. Barang kali karena kita punya 550 jenis rumput laut boleh jadi jenis lain yang baru untuk diciptakan," tuturnya di Menara Kadin, Jakarta, Senin (30/4).
Wakli Ketua Umum Kadin Bidang Kelautan dan Perikanan, Yugi Prayanto mengatakan, untuk meningkatkan daya saing komoditas rumput laut nasionai , dibutuhkan keseimbangan pengembangan antara hulu dan hilir. Disusul dengan industrialisasi komoditas ini yang digalakan pemerintah.
“Untuk industrialisasi rumput laut, titik perhatiannya tidak bisa dilihat dari satu sisi saja, tetapi hulu-hilirnya juga harus menjadi perhatian kita bersama. Di hulu kita harus perhatikan pembibitan dan metode budidayanya seperti apa misalnya, bagaimana upaya pelindungan pada para petani dan pembudidaya juga harus diperhatikan” ungkap Yugi.
Di sektor hilir, daya saing industri pengolahan pun perlu ditingkatkan agar bisa menyerap bahan baku rumput Iaut petani dengan baik.
“Rumput laut kita banyak diekspor, tidak ada yang salah dengan itu. Namun kita harapkan industri nasional juga bisa mengoptimalisasikan pemanfaatan rumput Iaut kita sendiri agar bernilai tambah," tegas Yugi.
Adapun banyak aspek yang berperan untuk memajukan industri pengolahan rumput laut. Di antaranya dari akses permodalan, riset dan teknologi hingga kepastian akses pasar. Sebab selama ini rumput laut sudah banyak dimanfaatkan industri sebagai bahan baku maupun campuran, seperti untuk industri makanan dan minuman hingga farmasi.
Sementara itu, untuk menuju industrialisasi, produksi rumput laut nasional terus mengalami penurunan setidaknya sejak dua tahun terakhir. Pihaknya sangat menyayangkan hai itu, mengingat potensi rumput laut Indonesia yang begitu besar dan telah menjadi komoditas ekspor yang patut diandalkan dari sektor kelautan.

14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Korban Dicekoki Miras Hingga Tak Sadar, Pelaku Pemerkosaan Cipondoh Masih Dicari
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
