Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 14 April 2018 | 18.05 WIB

Ngaku Jadi Pelayaran, Tiga Napi Video Call Sex Dengan 89 Perempuan

Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Hendro Pandowo - Image

Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Hendro Pandowo

JawaPos.com - Tiga narapidana (napi) lapas Jelekong Kabupaten Bandung mengaku bekerja di Pelayaran dan Pertamina untuk memeras para korban di Indonesia. Puluhan korban perempuan berhasil dikelabui para napi tersebut, dengan rayuan maut hingga dijanjikan dipersunting di kemudian hari.


Para tersangka, melangsungkan aksinya hanya menggunkan handphone canggihnya. Dengan modus berkenalan menggunkan identitas palsu akhirnya berhasil meraup puluhan hingga ratusan juta dari korban.


Adapun peran yang diberikan masing-masing tersangka yakni sebagai Bos dan seorang pelayaran. Pembagian tugas itu berhasil meyakini 89 wanita di Indonesia. Ketiga tersangka ini melakukan drama fiktif dan berhasil dipercaya oleh para korban.


"Sehingga ketika dia (tersangka) mengatakan saya akan kembali, harus izin ke bosnya dan kemudian disambungkan kepada pesiar. Jadi dia (tersangka lain) akan berperan seperti bosnya," kata Kapolrestabes Bandung, Kombes Pol Hendro Pandowo di Bandung, Jumat (13/4).


Tak hanya bos dan seorang pelayaran saja, tersangka lain pun berhasil meyakinkan korban yang berpura-pura sebagai teman sejawatnya di pelayaran. "Betul-betul bujuk rayu (tersangka) meyakinkan korban. Seolah olah berprofesi sebagai pelayaran atau pertamina," ungkapnya.


Atas penampilan drama fiktif tersebut, tiga tersangak berhasil meraup uang korban puluhan hingga ratusan juta. Karena tersangak tidak hanya meminta korban untuk mentransfer sejumlah uang sekali saja, melainkan berkali-kali. Masing-masing korban jumlah uang yang harus ditransfer beragam. Yakni jutaan, belasan juta, hingga puluhan juta sekali transaksi.


"Korban mentransfer Rp 8-12 juta tapi bisa juga harga itu tidak pasti Rp 1 juta pun bisa diterima tapi bisa Rp 28 juta, semampunya dari korbannya," ujarnya.


Perihal setiap korban berbeda-beda dalam melakukan transaksi karena ketika perkenalan awal, keduanya saling bertukar informasi. Baik nama, profesi, alamat rumah bahkan tentang keluarganya. "Tentunya disesuaikan kondisi korban, itu bisa terbaca pada pelaku pada saat komunikasi pertama apa profersinya," ucapnya.


Karena trik para tersangka berusaha mengetahui seluruh data atau identitas korban. Terkait alamat detail korban, karena data awal itu yang akan digunakan untuk mengancam korbannya. Sehingga tersangka dengan mudah menekan korban untuk mau mentransfer. Sebelumnya para tersangka mengancam akan menyebarkan foto atau video yang berhasil direkam saat melakukan video call tanpa busana atau sex by phone dari para korban.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore