Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 11 Maret 2018 | 06.54 WIB

68 Tahun Berlalu, Nyak Sandang: Presiden Jokowi Harus Perhatikan Kami

Nyak Sandang dan istrinya, Fatimah duduk beristirahat di teras rumanya di Gampong Desa Lhuet, Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya - Image

Nyak Sandang dan istrinya, Fatimah duduk beristirahat di teras rumanya di Gampong Desa Lhuet, Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya

JawaPos.com - Nyak Sandang, 91, seorang warga Gampong Lhuet, Kecamatan Jaya, Kebupaten Aceh Jaya, Aceh merupakah salah satu masyarkat Aceh penyumbang dana untuk membeli pesawat pertama Indonesia. Bukti pembayaran berupa kuitansi masih disimpannya sejak diterima pada 1950 lampau dan masih utuh hingga kini.


Nyak Sandang bercerita, ketika itu masyarakat Aceh, khususnya di Lamno Aceh Jaya, sangat antusias untuk menyumbang. Setelah mendengar seruan dari ulama terkemuka Abu Sabang atau Muhammad Idrus untuk menyumbang.


"Saya menyumbang Rp 100. Uangnya dari hasil menjual tanah yang memiliki pohon kelapa sekitar 40 batang," kata Nyak Sandang ketika ditemui JawaPos.com di kediamannya, Gampong Desa Lhuet, Kecamatan Jaya, Aceh Jaya, Sabtu (10/3).


Menurut dia, masyarakat Aceh sangat berjasa kerena telah mau patungan dan menyumbangkan hartanya kepada pemerintah Indonesia untuk membeli pesawat RI-001. Ketika itu Seokarno sebagai presiden pertama Indonesia.


"Saya sangat senang ketika Indonesia sudah punya pesawat. Sangat gembira dan bersemangat. Ketika pesawat melintasi Aceh Jaya, kami yang di dalam rumah langsung keluar dan melihatnya," ungkapnya. 


Dia menuturkan, atas jasa dan pengorbanan masyarakat Aceh termasuk dirinya, pemerintah Indonesia sudah seharusnya memperhatikan nasib mereka kini. Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Joko Widodo harusnya peduli akan nasib mereka.


"Saya sudah membantu Indonesia, oleh sebab itu pemerintah juga harus melihat kondisi kami. Membantu dalam bentuk apa saja boleh, tapi saya tidak berharap sedikit pun," ujarnya.


Alasan utama dirinya menyumbang uang saat itu karena didasari kecintaan pada Indonesia dan Bung Karno. Bahkan dirinya rela menjual sebidang tanah demi bisa menyumbang. Ia mengaku ikhlas dan tidak berharap diganti serta mendapat imbalan dari Pemerintah Indonesia. 


"Apa boleh buat, saya jual karena perlu uang dan karena sudah cinta dengan negara. Makanya direlakan," jelasnya.


Sajak menyerahkan uang tersebut Nyak Sandang tidak pernah berharap supaya dikembalikan negara. Kini, sudah 68 tahun berlalu dan tidak ada kabar soal itu. Ia kini menginjak usia 91, berharap dapat menunaikan keinginannya naik pesawat dan berhaji.


"Keinginan saat ini, jika ada kesempatan saya ingin naik haji dan membantu pembangunan masjid. Itu harapan saya. Semoga saja Jokowi mendengarkan," pungkasnya.


Kini Nyak Sandang sudah sepuh dan kondisi fisiknya sudah menua. Kendati demikian tubuhnya masih tampak kuat dan semangatnya masih menggelora ketika bercerita sejarah. Hanya saja pendengaran dan penglihatannya sudah berkurang.


"Mata kanan masih bisa melihat. Sebelah kiri tidak bisa sejak 2011 karena katarak. Sempat operasi tapi gagal. Saya ada keiginan untuk berobat atau operasi. Kalau pengelitahan bagus, saya bisa membaca quran, doa-doa serta mudahkan ketika beraktivitas," tandasnya.

Editor: Sari Hardiyanto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore