Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 30 Oktober 2017 | 15.19 WIB

Mengunjungi Rumah Kaki Seribu di Festival Budaya Malamoi 2017

Dandim 1704/Sorong, Letkol Inf Anda Dodianto Panggabean mencoba mengolah sagu dalam Festival Budaya Malamoi 2017 - Image

Dandim 1704/Sorong, Letkol Inf Anda Dodianto Panggabean mencoba mengolah sagu dalam Festival Budaya Malamoi 2017

Beragam budaya Malamoi dari penduduk asli Sorong ditampilkan pada Festival Budaya Malamoi 2017. Salah satu yang menyedot perhatian pengunjung adalah pengolahan sagu secara tradisional.


NAMIRAH HASMIR, Sorong


---


FESTIVAL Malamoi 2017 menjadi kesempatan bagi suku Malamoi atau dikenal sebagai orang Moi untuk memperkenalkan indahnya budaya salah satu suku di wilayah kepala burung Papua Barat itu kepada khalayak. Ajang yang kali pertama dihelat tersebut dibuka pada 27 Oktober oleh Wagub Papua Barat Mohammad Lakotani dan berakhir hari ini di Alun-Alun Aimas, Kabupaten Sorong.


Dengan menggunakan anyaman bambu dan kayu serta diatapi terpal, panitia festival membuat lebih dari 20 stan yang diisi beragam budaya. Mulai pameran kreatif, kuliner masyarakat Malamoi, lomba fotografi Malamoi, proses pengolahan sagu, hingga rumah kaki seribu.


Bukan hanya itu, budaya Malamoi juga ditampilkan melalui tari-tarian dari beragam subsuku yang memiliki pesona etnik dan makna yang begitu sakral. Ada sub suku Moi Klin, Moi Maya, Moi Sigim, Moi Lemmak, Moi Salawak, Moi Kalabra, serta Moi Abun. Selain itu, pada malam festival, budaya Malamoi ditampilkan melalui vokal grup dari beberapa kelompok.


Dari semua kekayaan lokal yang ditampilkan, pengolahan sagu dan rumah kaki seribu paling banyak menarik perhatian pengunjung.


Rumah kaki seribu tersebut memang unik. Berbeda dengan rumah panggung lain yang memiliki tiang fondasi di pinggir bangunan rumah, rumah kaki seribu tersebut memiliki tiang fondasi yang sangat banyak. Dengan menggunakan bambu yang dianyam di bawah bangunan rumah beratapkan rumput ilalang, rumah kaki seribu memiliki dua pintu depan dan belakang.


Keunikan rumah kaki seribu yang jarang dilihat masyarakat kota membuat sebagian pengunjung datang. Mereka melihat-lihat isi rumah sambil mengabadikannya.


Yang tidak kalah menarik adalah proses pembuatan sagu. Mama-mama Papua yang menggunakan sarung mengolah sagu secara manual dengan menokok pohon sagu menjadi serbuk.


Komandan Kodim 1704/Sorong Letkol Inf Andar Dodianto Pangabean yang melihat langsung kegiatan menokok sagu itu tertarik untuk mencoba. Sambil berbincang-bincang dengan mama-mama Papua, Dandim terus mengayunkan bambu yang dibentuk menyerupai huruf A. Tujuannya, menghancurkan pohon sagu menjadi serbuk.


Mama Maria, salah seorang pengolah sagu, menyampaikan bahwa mengolah satu pohon sagu membutuhkan waktu yang cukup lama. "Satu pohon paling cepat seminggu, paling lama dua minggu," ucapnya. Isi pohon sagu yang berwarna putih itu ditumbuk hingga menjadi serbuk.


Serbuk yang terkumpul dimasukkan ke tempat penyaringan dan disiram dengan air hingga sarinya keluar. Selanjutnya, air tersebut disimpan di sebuah tempat penampungan, lalu didiamkan selama lebih dari satu hari. Sementara itu, serbuknya dibuang. "Kalau mau hasil yang lebih bagus, bisa didiamkan lebih lama," kata Mama Maria.


Endapan dari air tersebut nanti berwarna putih dan disebut sagu. Selanjutnya, sagu siap diolah menjadi beragam makanan khas seperti papeda. Satu pohon terkadang bisa menghasilkan 50 karung sagu. Selain dimanfaatkan untuk keluarga, sagu hasil tokok diedarkan ke pasar Rp 20 ribu per potong sagu. 

Editor: Administrator
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore