Senin, 23 Oct 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Politik

Tiket Gatot untuk Maju Pilpres 2019 Ada di Tangan Prabowo?

| editor : 

Gatot Nurmantyo

Panglima TNI Gatot Nurmantyo. (Ridwan/JawaPos.com)

JawaPos.com - Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Prabowo Subianto disebut-sebut jadi penentu maju atau tidaknya Gatot Nurmantyo di pilpres 2019.

“Ada analis kalau Gatot Nurmantyo sangat bergantung pada Prabowo. Atau sederhananya, tiket Gatot ada di tangan Prabowo,” kata Direktur Eksekutif Voxpol Center Pangi Sarwi Chaniago di gedung DPR, Jakarta, Kamis (12/10) malam.

Analisis politik itu kata Pangi, muncul karena Prabowo bisa jadi hanya akan menjadi king maker di pilpres 2019. Seperti Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan Megawati Soekarnoputri.

“Bukan tidak mungkin di pilpres 2019, Prabowo akan mengambil peran sebagai king maker,” ujar pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta itu.

“Jadi, Prabowo bisa saja mempersilakan Gatot pakai saja partai (Gerindra) ini untuk pilpres 2019. Ini pasti menarik dan Gatot punya peluang,” ungkapnya.

Hanya saja Ipang menuturkan, yang menjadi persoalannya sekarang ini apakah Prabowo mau untuk memberikan partainya dipakai Gatot. Sebab, ujar dia, sampai saat ini Prabowo juga masih kepengin menjadi capres 2019.

Bahkan, kader Partai Gerindra sudah terang-terangan akan mengusung Prabowo kembali menjadi calon orang nomor satu di negeri ini pada pilpres 2019 nanti.

"Tapi, kalau Prabowo masih memaksakan maju menjadi capres, maka harus dikalkulasikan lagi apa bisa menang atau tidak,” jelasnya.

Lebih lanjut Pangi menuturkan, hasil survei sejumlah lembaga menempatkan elektabilitas Jokowi unggul atas Prabowo.

Namun, elektabilitas Jokowi tidak sampai di atas 50 persen. Hal itu menandakan publik menginginkan adanya nama lain, selain Jokowi dan Prabowo. “Masyarakat menginginkan nama lain atau nama baru,” kata dia.

Pangi menuturkan, Gatot bisa saja menjadi kuda hitam atau sebagai meteor baru jelang pilpres 2019. Dia mengingatkan, 1,5 tahun ke depan bukan tidak mungkin ada sosok baru yang bisa menjadi figur untuk menantang Jokowi dan Prabowo.

Pangi juga memprediksi, elektabilitas Jokowi kemungkinan tidak bisa naik lagi. Di satu sisi, Jokowi butuh pendukung yang konsisten atau strong voter. Tapi, di sisi lain, tidak ada pemilih dari segmen lain yang masuk ke Jokowi.

Selain segmen pemilihnya yang selama ini sudah ada. Sedangkan elektabilitas Prabowo juga stagnan. Pangi menegaskan dalam kondisi seperti ini undecided voters, pemilih yang belum mantap melakukan pemilihan bisa saja beralih ke tokoh baru.

“Tokoh itu bisa saja tokoh antitesisnya Jokowi. Bisa saja tokoh yang sudah terlihat programnya dan populis seperti Gatot,” tegas Pangi.

Apalagi, ujar dia, sekarang sudah ada partai politik yang tertarik sama Gatot. Meskipun, ada beberapa di antaranya ingin Gatot di posisi calon wakil presiden dipasangkan dengan Jokowi. Namun, Pangi berpendapat, kalau Gatot dipasangkan dengan Jokowi, belum tentu efektif.

Sebab, pemilih Gatot adalah segmen kanan seperti yang kritis kepada pemerintah dan lainnya. Belum tentu juga pemilih Gatot nanti memilih Jokowi jika keduanya berpasangan.

“Jadi, korelasinya kalau Jokowi berpasangan dengan Gatot belum tentu tinggi keterpilihannya. Kalau Gatot sendiri jadi capres, mungkin bisa lebih tinggi,” tegas Pangi.

(dms/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP