Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 3 Oktober 2017 | 11.50 WIB

Polemik Soal Senjata Harus Diakhiri, Pemerintah Perlu Lakukan Ini

Anggota Komisi I DPR Bobby Adhityo Rizaldi - Image

Anggota Komisi I DPR Bobby Adhityo Rizaldi

JawaPos.com - Polemik mengenai senjata terungkap lagi, setelah sebelumnya sebanyak 280 pucuk Stand Alone Grenade Laucher (SAGL), yang diimpor Polri dari Bulgaria tertahan di Bandara Soekarno-Hatta.


Anggota Komisi I DPR, Bobby Adhityo Rizaldi meminta kepada Menteri Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto, untuk kembali turun tangan mengehentikan polemik atau pro dan kontra masalah senjata itu.


Apalagi sebelumnya juga Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo menyebut ada lembaga nonmiliter, mencatut nama Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk membeli 5.000 senjata ilegal.


"Mendorong pemerintah lewat Menkopolhukam segera tuntaskan soal kesimpang siuran impor senjata api ke instansi militer," ujar Bobby saat dihubungi, Senin (2/10).


Politukus Partai Golkar ini juga menambahkan, perlu adanya penataan kembali mengenai pembelian sejata, sesuai dengan UU Nomor 12/1951, dan Inpres Nomor 9/1976 tengang Pengawasan Senjata Api. Atau juga lewat Permenhan Nomor 7/2010 tentang Perizinan, Pengawasan, dan Pengendalian Senjata Api di luar Kemenhan dan TNI.


"Bila perlu ini diinisiasi MoU antara TNI dan 12 instansi non militer," katanya.


Sehingga ungkap Bobby tidak ada lagi senjata ilegal yang dimiliki lembaga lain selain TNI. Oleh sebab itu dia berharap Menkopolhukam Wiranto bisa turun tangan.


"Sehingga sejata kombatan tidak dimiliki institusi lain selain TNI," ungkapnya.


Sebelumnya, Mabes Polri akhirnya mengklarifikasi informasi barang impor berupa senjata yang tertahan di Bandara Soekarno-Hatta.


Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Setyo Wasisto memastikan jika pembelian senjata yang didatangkan dari Bulgaria itu sesuai sesuai dengan prosedur.


Polri sudah melakukan perencanaan, lalu melelang, dan ditinjau oleh staf Irwasum dan BPKP. Semua proses itu dilakukan, sebelum Polri memutuskan untuk membeli melalui pihak ketiga.


Berdasarkan informasi, ada dua jenis benda yang diimpor oleh Polri, yakni senjata Stand Alone Grenade Launcher (SAGL) kaliber 40X46 mm. Jumlahnya mencapai 280 pucuk dan dikemas dalam 28 kotak (10 pucuk/kotak) dengan berat total 2.212 kilogram. Sementara, benda kedua adalah amunisi RLV-HEFJ kaliber 40X46 mm yang dikemas dalam 70 boks (84 butir/boks) dan 1 boks (52 butir). Totalnya mencapai 5.932 butir (71 boks) dengan berat 2.892 kilogram.


Baik amunisi dan senjata merupakan peralatan yang sesuai dengan standar militer. Menurut situs arsenal-bg.com, SAGL merupakan senjata pelontar granat tipe M 406. Sementara, RLV-HEFJ adalah amunisi granat yang digunakan sebagai senjata serbu militer untuk menghancurkan kendaraan atau material lapis baja ringan.


Sementara, kargo berisi senjata dan amunisi diimpor oleh PT Mustika Duta Mas. Rencananya, senjata dan amunisi itu akan digunakan oleh Korps Brimob Polri.‎

Editor: Administrator
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore