Kamis, 14 Dec 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Bisnis

E-Commerce Tak Akan Terbendung

| editor : 

GO DIGITAL: Presiden Joko Widodo (kanan) bersama Menteri BUMN Rini Soemarno (dua dari kanan) dan Dirut BNI Achmad Baiquni (tiga dari kanan) di booth Bank BNI di Indonesia Banking Expo 2017, JCC, Senayan, Jakarta, kemarin.

GO DIGITAL: Presiden Joko Widodo (kanan) bersama Menteri BUMN Rini Soemarno (dua dari kanan) dan Dirut BNI Achmad Baiquni (tiga dari kanan) di booth Bank BNI di Indonesia Banking Expo 2017, JCC, Senayan, Jakarta, kemarin. (RAKA DENNY/JAWA POS)

JawaPos.com  – Tren ekonomi digital sudah tidak bisa dibendung. Ketika sejumlah pemain retail konvensional besar menutup beberapa gerai, tren belanja online justru tumbuh. Perlahan tapi pasti, konsumen mulai beralih ke pasar online. Peralihan itu juga diklaim menguntungkan pedagang karena jangkauannya semakin luas.

Sejumlah pelaku usaha digital meminta pemerintah memberikan dukungan berupa SDM. Hal itu disampaikan langsung kepada Presiden Joko Widodo saat pembukaan Indonesia Bussiness and Development Expo di Jakarta Convention Center kemarin (20/9).

CEO Go-Jek Nadiem Makarim menyoroti kesiapan SDM mulai dari hulu. Menurut dia, yang kurang digali saat ini adalah talenta yang berkaitan dengan ekonomi digital. Seharusnya, SDM-SDM yang berkaitan dengan ekonomi digital disiapkan sejak jenjang yang dini, setidaknya di level SMA/SMK.

Misalnya, membuka jurusan-jurusan tertentu untuk spesialisasi terkait ekonomi digital. Bahkan, bahasa teknologi sebagai dasar ekonomi digital perlu dipahami sejak jenjang yang lebih rendah lagi. ’’Hulunya yang harus dibangun. Coding itu seharusnya diajarkan sejak SMP,’’ ujarnya.

Hal senada disampaikan CEO Tokopedia William Tanuwijaya. Dia menuturkan, dunia digital membuat perusahaan start-up baru bermunculan. Dia memberikan gambaran platform Tokopedia yang telah melahirkan dua juta pebisnis online dari Sabang sampai Merauke. ’’Menariknya, 80 persen di antara mereka adalah orang-orang yang memulai bisnis untuk kali pertama,’’ katanya.

Latar belakangnya beragam. Mulai ibu rumah tangga, pekerja kantoran, mahasiswa, sampai produsen lokal, terutama di luar Jawa. Mereka bisa menjalankan bisnis secara penuh atau paro waktu karena sudah ada dukungan teknologi.

Pada 2016, jumlah perusahaan start-up berada di kisaran 2.000 unit. Hingga akhir tahun ini, jumlahnya diperkirakan meningkat menjadi 2.700 perusahaan. Pada 2020, jumlahnya akan melonjak menjadi 13 ribu start-up. Para pengusaha itu tidak butuh kantor. Bisnis cukup dijalankan dari rumah, bahkan bisa sambil nongkrong di kafe.

Pergeseran pola niaga juga tampak dalam pola transaksi di pusat-pusat grosir seperti Tanah Abang. Jika dulu harus hadir secara fisik untuk membeli barang, sekarang pembeli cukup memesan barang secara online lewat e-commerce. ’’Ini juga memicu pertumbuhan pusat bisnis baru di luar Jawa karena tidak lagi semua hal harus dilakukan di Jawa,’’ tambahnya.

Mengenai usulan tersebut, Jokowi mengakui bahwa saat ini mulai ada pergeseran niaga dari offline ke online. Sebagian konsumen juga mulai malas berbelanja offline dan beralih ke belanja online karena lebih praktis. ’’Tinggal keluarkan handphone, buka aplikasi, pesan, dan bayar di aplikasi, tunggu barang dikirim ke rumah,’’ paparnya. (*)

(byu/c15/sof)

Sponsored Content

loading...
 TOP