Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 14 Agustus 2017 | 10.19 WIB

Darah Berceceran, Kamar Mayat Tak Muat Menampung Korban Pembantaian

Suherman Menunjukan dokumen langka yang menggambarkan kekejaman Wirdjo di tahun 1987 di Banyuwangi, Jawa timur. - Image

Suherman Menunjukan dokumen langka yang menggambarkan kekejaman Wirdjo di tahun 1987 di Banyuwangi, Jawa timur.

JawaPos.com - Aksi pembantaian yang dilakukan Wirdjo menjadi fenomenal di Banyuwangi, Jawa timur (Jatim) di tahun 1987 silam. Belasan nyawa melayang dan puluhan terluka dibabat senjata tajam oleh hanya seorang pria berumur 35 tahun.


Dari kejadian itu, ada sosok Suherman, 62, warga Kelurahan Taman Baru, Kecamatan Banyuwangi, yang turut menjadi satu dari sekian banyak saksi mata tragedi memilukan tersebut.


Waktu itu, hari yang akan dikenang selamanya oleh Petugas RSUD Blambangan. Kejadian itu bahkan menjadi pengalaman kerja paling berkesan sepanjang karirnya.


Pagi, sekitar pukul 08.00, bapak dua anak ini sudah bersiap menunggu proses operasi di ruangan. Rencananya, bersama kru lainnya di ruangan tersebut, dia akan melakukan tindakan operasi terhadap seorang pasien.


Kru medis rumah sakit pun sudah bersiap di ruangan. Pasien yang akan menjalani proses operasi. Pembiusan pun sudah dilakukan yang menandakan tindakan pembedahan segera bisa dilaksanakan.


Namun tiba-tiba, pesawat telepon di dalam ruangan operasi berdering nyaring. Suherman langsung bergegas menerima panggilan telepon itu.


Tidak lama kemudian, percakapan lewat sambungan alat komunikasi itu berakhir. Telepon yang kemudian diketahui dari Unit Gawat Darurat (UGD) itu, meminta seluruh kru operasi untuk pergi bergeser ke UGD.


Situasi yang benar-benar gawat darurat, membuat operasi terpaksa dibatalkan. “Pasien sudah dibius dan masuk ruangan. Tapi akhirnya ditunda karena kepala UGD meminta kami untuk membantu tindakan medis di sana,” kenang Suherman saat ditemui di rumahnya kemarin (5/8).


Seluruh kru kamar operasi pun bergegas menuju UGD. Pemandangan memilukan pun tersaji di ruang gawat darurat. Beberapa pasien tergeletak di atas ranjang ruangan emergency itu.


Lantaran saking banyaknya korban, beberapa pasien pun terpaksa harus rela tergolek di lantai ruangan dengan alas seadanya.


Ada yang datang menggunakan sepeda motor. Bahkan beberapa di antaranya korban datang secara rombongan dengan menggunakan kendaraan bak terbuka.


Pasien terus datang secara bergelombang di UDG RSUD Blambangan saat itu. Ada korban yang masih anak-anak hingga lelaki yang sudah lanjut usia. 


Semakin siang, jumlah pasien korban pembacokan Wirdjo yang memenuhi ruangan UGD semakin banyak. Kasus yang dialami pasien ini pun sama. Mereka mengalami luka bekas sabetan senjata tajam di beberapa bagian tubuh.


Ada yang mengalami luka di bagian kepala, leher, pundak, tangan, perut, hingga luka sabetan di kaki. Tragisnya, ada beberapa korban yang datang ke UGD dalam kondisi sudah dalam meninggal dunia.


Pasien yang sudah meninggal dunia, langsung dipindahkan ke kamar mayat. Ini membuat situasi kamar mayat hampir mirip dengan UGD. Darah segar berceran dimana-mana.

Editor: Dimas Ryandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore