Rabu, 20 Sep 2017
Logo JawaPos.com
Features

Jejak Wirdjo si Pembantai dari Banyuwangi (3)

Darah Berceceran, Kamar Mayat Tak Muat Menampung Korban Pembantaian

| editor : 

Suherman Menunjukan dokumen langka yang menggambarkan kekejaman Wirdjo di tahun 1987 di Banyuwangi, Jawa timur.

Suherman Menunjukan dokumen langka yang menggambarkan kekejaman Wirdjo di tahun 1987 di Banyuwangi, Jawa timur. (Niklaas Andries/Radar Banyuwangi)

JawaPos.com - Aksi pembantaian yang dilakukan Wirdjo menjadi fenomenal di Banyuwangi, Jawa timur (Jatim) di tahun 1987 silam. Belasan nyawa melayang dan puluhan terluka dibabat senjata tajam oleh hanya seorang pria berumur 35 tahun.

Dari kejadian itu, ada sosok Suherman, 62, warga Kelurahan Taman Baru, Kecamatan Banyuwangi, yang turut menjadi satu dari sekian banyak saksi mata tragedi memilukan tersebut.

Waktu itu, hari yang akan dikenang selamanya oleh Petugas RSUD Blambangan. Kejadian itu bahkan menjadi pengalaman kerja paling berkesan sepanjang karirnya.

Pagi, sekitar pukul 08.00, bapak dua anak ini sudah bersiap menunggu proses operasi di ruangan. Rencananya, bersama kru lainnya di ruangan tersebut, dia akan melakukan tindakan operasi terhadap seorang pasien.

Kru medis rumah sakit pun sudah bersiap di ruangan. Pasien yang akan menjalani proses operasi. Pembiusan pun sudah dilakukan yang menandakan tindakan pembedahan segera bisa dilaksanakan.

Namun tiba-tiba, pesawat telepon di dalam ruangan operasi berdering nyaring. Suherman langsung bergegas menerima panggilan telepon itu.

Tidak lama kemudian, percakapan lewat sambungan alat komunikasi itu berakhir. Telepon yang kemudian diketahui dari Unit Gawat Darurat (UGD) itu, meminta seluruh kru operasi untuk pergi bergeser ke UGD.

Situasi yang benar-benar gawat darurat, membuat operasi terpaksa dibatalkan. “Pasien sudah dibius dan masuk ruangan. Tapi akhirnya ditunda karena kepala UGD meminta kami untuk membantu tindakan medis di sana,” kenang Suherman saat ditemui di rumahnya kemarin (5/8).

Seluruh kru kamar operasi pun bergegas menuju UGD. Pemandangan memilukan pun tersaji di ruang gawat darurat. Beberapa pasien tergeletak di atas ranjang ruangan emergency itu.

Lantaran saking banyaknya korban, beberapa pasien pun terpaksa harus rela tergolek di lantai ruangan dengan alas seadanya.

Ada yang datang menggunakan sepeda motor. Bahkan beberapa di antaranya korban datang secara rombongan dengan menggunakan kendaraan bak terbuka.

Pasien terus datang secara bergelombang di UDG RSUD Blambangan saat itu. Ada korban yang masih anak-anak hingga lelaki yang sudah lanjut usia. 

Semakin siang, jumlah pasien korban pembacokan Wirdjo yang memenuhi ruangan UGD semakin banyak. Kasus yang dialami pasien ini pun sama. Mereka mengalami luka bekas sabetan senjata tajam di beberapa bagian tubuh.

Ada yang mengalami luka di bagian kepala, leher, pundak, tangan, perut, hingga luka sabetan di kaki. Tragisnya, ada beberapa korban yang datang ke UGD dalam kondisi sudah dalam meninggal dunia.

Pasien yang sudah meninggal dunia, langsung dipindahkan ke kamar mayat. Ini membuat situasi kamar mayat hampir mirip dengan UGD. Darah segar berceran dimana-mana.

“Saking banyaknya kamar mayat sampai tidak muat. Sampai ada mayat yang diletakkan di lantai,” ujar Rohadi, pensiunan petugas kamar mayat RSUD Blambangan saat ditemui di rumahnya.

Sementara itu di UGD, Suherman dan rekan medis lainnya bahu membahu menangani luka yang dialami pasien. Tidak hanya tim medis rumah sakit, aparat dari TNI dan Polri juga turut membantu korban dengan menjadi sukarelawan di UGD.

Mereka membantu mengevakuasi korban dari kendaraan menuju ruang tindakan di UGD. Banyaknya korban tidak sebanding dengan jumlah petugas medis yang ada. Alhasil, puluhan korban yang ada tersebut membuat petugas harus bekerja keras.

Tidak hanya perawat, dokter pun turun gunung langsung dikerahkan untuk membantu menangani pasien di UGD. Beberapa perawat magang juga diterjunkan untuk turut membantu korban.

Dari sekitar 37 korban yang masuk UGD, 15 orang di antaranya meninggal dunia. Sisanya berhasil diselamatkan oleh tim medis yang ada di UGD RSUD Blambangan.

Kegiatan pertolongan medis ini pun membuat para petugas medis harus bekerja maraton mulai pukul 09.00 hingga pukul 13.00.

“Kami lakukan tindakan. Kalau pendarahannya hebat, terpaksa kami hentikan sementara sambil menangani pasien yang lebih serius,” katanya.

Sementara itu di luar ruangan UGD, ribuan masyarakat menyemut hingga ke badan Jalan Letkol Istiqlah Banyuwangi.

Masyarakat rupanya cukup penasaran dengan keberadaan korban yang cukup banyak tersebut. Tidak hanya bagian luar rumah sakit. Lokasi sekitar kamar mayat di sisi belakang RSUD Blambangan pun tidak luput dari kerumunan masyarakat.

Saking membeludaknya masyarakat yang menyaksikan insiden berdarah ini, tembok di dekat kamar mayat sampai roboh.

Aksi saling berdesakan masyarakat membuat tembok yang menjadi pembatas kamar mayat dengan jalan umum di belakang RSUD itu, akhirnya tidak mampu menahan kehadiran massa.

Kini, sudah lebih kurang 30 tahun kejadian berdarah itu berlalu. Suherman yang kala itu bertugas di kamar operasi rumah sakit, boleh dibilang menjadi saksi sejarah kejadian berdarah tersebut.

Kesaksian itu di antaranya dimilikinya berupa foto suasana UGD saat proses penanganan korban sabetan senjata tajam sang jagal Wirdjo.

Foto yang kini masih tersimpan rapi di rumah. Foto-foto itu pun tergolong benda langka dan belum pernah dipublikasikan.

Di sana pula, terdokumentasi foto Wirdjo yang ditemukan gantung diri tidak jauh dari rumahnya di dekat sungai di Lingkungan Watu Buncul, Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Glagah. “Banyak yang belum tahu sosok dan rupa Wirdjo yang fenomenal kala itu. Saya ada fotonya,” ujar Suherman.

Foto dokumentasi bersejarah itu sebetulnya bukan karya Suherman. Foto itu merupakan pemberian dari salah seorang petugas Linmas Pemkab Banyuwangi.

Dalam ingatannya, Suherman sempat melihat sosok orang berpakaian Linmas mondar-mandir di UGD saat dirinya melakukan penanganan para korban pembacokan masal itu.

Pria yang tidak diketahui namanya itu, banyak mengambil gambar tindakan medis yang dilakukan petugas di UGD.

Bahkan suasana di kamar mayat kala itu berhasil didokumentasikan petugas berpakaian Linmas itu. Termasuk saat Wirdjo ditemukan, fotonya pun ada di sana.

Tidak lama berselang, pria misterius itu menemui Suherman. Dia kemudian memberikan foto itu kepada Suherman. Fotonya lengkap dan kualitas gambarnya cukup bagus.

“Saya diberikan foto itu sebagai kenang-kenangan katanya. Ada foto saya di sana saat memberi tindakan medis ke pasien,” ujar pensiunan pegawai RSUD Blambangan itu.

Rentetan gambar itu hingga kini masih tersimpan dengan rapi di rumahnya. Bahkan sang istri pun sempat kaget saat mengetahui suaminya masih menyimpan foto tragedi berdarah hingga kini.

Ada sekitar 36 foto yang dimiliki Suherman. Bahkan foto yang dimiliki terbilang cukup eksklusif. Foto itu boleh dibilang tidak pernah tersebar ke media sosial atau situs pencari saat ini. Kualitas gambarnya cenderung tidak berubah hingga sekarang.

(dms/jpr/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP