Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 26 Juni 2017 | 00.39 WIB

Cerita Dibalik Penangkapan BNN Pada Pilot RS Karena Kasus Narkoba

Ilustrasi - Image

Ilustrasi

JawaPos.com -Badan Narkotika Nasional (BNN) NTB melimpahkan penanganan perkara pilot maskapai Lion Air, dengan inisial RS, yang kedapatan membawa narkoba jenis hashis ke BNN pusat. Pria asal Mumbai, India ini diberangkatkan BNN tak lama setelah penangkapannya.


Kepala BNN NTB Brigjen Pol Sukisto mengatakan, karena ini terkait warga negara asing (WNA) maka pihaknya memutuskan untuk menyerahkan RS ke BNN. 


”Malam itu, saat penangkapannya langsung kita antar ke BNN,” kata Sukisto sebagaimana dilansir Lombok Post (Jawa Pos Group).


Sukisto menjelaskan, tertangkapnya RS mendapat atensi Kepala BNN RI Komjen Budi Waseso. Apalagi ini terjadi saat arus mudik. Terkait keselamatan ratusan penumpang yang memiliki tiket pesawat Lion Air.


”Jadi kita tetap akan giatkan pengecekan setiap operator kapal maupun pesawat udara, dalam rangka pengamanan mudik,” ujarnya.


Lebih lanjut, pengungkapan kasus ini bermula dari tes urine yang dilaksanakan, Rabu (21/6), di ruang karantina kesehatan bandara sekitar pukul 10.00 Wita. Mereka yang diperiksa  berasal dari Batik Air, Lion Air dan Garuda Indonesia. 


Langkah ini dilakukan BNNP bersama Polda NTB, POM TNI, Avsec LIA, dan Angkasa Pura. Tujuannya untuk memastikan kesiapan keselamatan penerbangan lebaran. 


Saat tes urine itulah, hasil dari RS menunjukkan positif mengandung zat narkotika dengan kategori Hashis. RS sendiri diketahui akan membawa penumpang menuju Jakarta dengan nomor penerbangan JT 657.


Setelah pemeriksaan tersebut, RS sempat tidak mengakui membawa hasis. Namun, setelah dilakukan penggeledahan, ditemukanlah barang bukti yang dimaksud. Sekitar pukul 13.30 Wita, yang bersangkutan pun digelandang  ke kantor BNNP. Sementara yang lain negatif, pelayanan penerbangan pun dilanjutkan ke tujuannya masing-masing.  


Saat menjalani pemeriksaan di  BNNP,  RS akhirnya mengaku jika ia memiliki barang haram tersebut. Konon hashis seberat 5,03 gram yang ditemukan dalam kopernya, ia beli dari Bali. Harganya pun terbilang murah, untuk ukuran profesinya, yakni sebesar Rp 700 ribu per gram.


”Dia beli di Bali. Dan memang yang bersangkutan juga mengaku sebagai pecandu,” ungkapnya.(dit/r2/nas/JPG)

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore