
KOMPOSISINYA SUDAH PAS: Syafa menunjukkan slime yang baru selesai dibuatnya Sabtu (12/11). Slime tersebut akan dijualnya.
Usianya baru sepuluh tahun. Baru duduk di kelas V SD. Tapi, dia berhasil mengembangkan hobi bermain slime sebagai ladang bisnis.
SEPTINDA AYU PRAMITASARI
SLIME. Cairan kental, menggumpal, kenyal, dan sedikit lengket itu begitu menggemaskan. Membuat banyak orang yang memegangnya tidak mau buru-buru melepasnya. Ingin terus meremas-remasnya. Begitu juga Syafa Nabila Cahyani.
Kedua tangan bocah sepuluh tahun itu terus meremas slime buatannya. Sesekali slime ditarik hingga panjang. Melebar sesuai dengan yang dia inginkan.
”Ini lembut sekali. Ditekan-tekan, keluar bunyinya, lucu. Menggemaskan sekali ketika dipegang,” kata Syafa sambil terus memegang slime pada Sabtu (12/11).
Slime adalah mainan edukatif. Ia dapat menjadi media untuk melatih dan menstimulasi perkembangan motorik anak. Kalau sudah agak lama dimainkan, slime akan berubah agak keras.
Dengan begitu, slime lebih mudah untuk dibentuk menjadi benda tiga dimensi. Slime di tangan Syafa itu tidak dibelinya. Melainkan hasil produksinya sendiri. Bahan-bahan untuk membuatnya sederhana.
Bisa ditemukan di setiap toko buku dan supermarket. Antara lain, lem kertas, lem Fox (lem kayu), sabun cair, slime activator, dan air mineral. Siswa kelas V SD Islam Sabilillah, Sidoarjo itu langsung memperagakan cara membuat slime.
Awalnya, dia memasukkan lem kertas atau Povinal sekitar 100 mililiter ke dalam mangkuk kecil. Cairan tersebut kemudian dicampur dengan lem Fox sekitar 200 gram. Tangannya terus mengaduk adonan tersebut dengan spatula.
”Diaduk terus sampai rata,” ujarnya di rumahnya, Perumahan Graha Kota, Desa Suko, Kecamatan Sidoarjo. Setelah tercampur rata, Syafa menambahkan sabun wajah sekitar 10 mililiter agar adonan slime lebih halus.
Lalu, ditambah lagi dengan sabun mandi cair sebanyak 10 mililiter. Putri tunggal pasangan Koko Budi Cahyono dan Yuanita Herlina tersebut langsung mengaduk-aduk adonan hingga rata.
Setelah itu, baru dia memasukkan slime activator. ”Hmmm, slime-nya berhasil. Sudah mulai menggumpal dan kenyal. Ini namanya marshmallow,” kata Syafa dengan gembira.
Syafa paling suka menghabiskan waktu liburnya di rumah dengan membuat slime. Dalam sehari, setidaknya dia membuat 1–2 kilogram slime. Seluruh slime produksinya itu didistribusikan ke salah satu mal di Kota Delta.
Juga untuk memenuhi pesanan teman-temannya di sekolah. ”Slime ini mau dikirim ke mal. Tinggal diwarnai saja,” ucap gadis kecil itu. Syafa sebenarnya tidak menyangka bahwa hobinya bermain slime bisa menghasilkan uang.
Awalnya, orang tua sempat marah ketika Syafa bermain slime. Alasannya, harga slime mahal. ”Mama selalu bilang cari mainan yang lain. Uangnya dipakai buat beli jajan saja daripada beli lem (tekstur slime sekilas memang mirip lem, Red),” ujar Syafa.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Celtic vs Ferencvaros di Liga Europa: Kans The Hoops Permalukan Lawan di Celtic Park
Prediksi Skor Malaga vs Villarreal di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Siap Bombardir Tuan Rumah
Prediksi Skor Lillestrom vs Torreense di Liga Europa: Kans Kanarifuglene Menang di Arasen Stadion
Prediksi Skor Real Betis vs Getafe di Liga Spanyol: Los Verdiblancos Siap Sikat Perlawanan Tim Tamu
Prediksi Skor Besiktas vs Marseille di Liga Europa: Kara Kartallar Cabik-cabik Tim Tamu di Tupras
Prediksi Skor Arema FC vs Persik Kediri di Super League: Macan Putih Kembali Jinakkan Singo Edan!
Prediksi Skor Viktoria Plzen vs Union SG di Liga Europa: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Susunan Pemain Manchester City vs Norwich: Maresca Rotasi Skuad
Prediksi Skor Levski Sofia vs Red Bull Salzburg di Liga Europa: Misi Die Roten Bullen Curi Poin
Prediksi Skor Real Sociedad vs Bournemouth di Liga Europa: Txuri-urdin Bakal Kesulitan Redam Lawan

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022