
Foto udara deretan rumah subsidi di Kawasan Bogor, Kamis (27/12/2024). (Salman Toyibi/ Jawa Pos)
JawaPos.com - Sinyal kebangkitan industri properti nasional mulai terlihat. Satuan Tugas (Satgas) Perumahan menilai tahun 2026 akan menjadi titik balik setelah sektor ini melewati fase terberatnya dalam beberapa tahun terakhir.
Anggota Satgas Perumahan Panangian Simanungkalit optimistis, membaiknya kondisi ekonomi sejak kuartal IV-2025 menjadi fondasi kuat bagi pemulihan industri properti. Momentum tersebut diharapkan mampu mengakselerasi Program Tiga Juta Rumah yang diusung pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
“Pertumbuhan properti selalu mengikuti pertumbuhan ekonomi. Walaupun saat ini daya beli masyarakat masih terasa berat, saya yakin ekonomi akan pulih pada tahun ini,” ujar Panangian dalam keterangannya, Rabu (14/1).
Ia menjelaskan, industri properti memang mengalami perlambatan cukup panjang. Dalam rentang 2014–2024, pertumbuhan ekonomi nasional rata-rata hanya di kisaran 4 persen, salah satunya akibat hantaman pandemi Covid-19. Namun, kondisi mulai berbalik pada akhir 2025.
Data menunjukkan pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV-2025 mencapai 5,45 persen, meningkat dibandingkan kuartal III-2025 yang sebesar 5,04 persen. Tren ini, menurut Panangian, menjadi sinyal bahwa fase terendah telah dilewati.
“Kalau titik rendahnya sudah dilalui, tugas pemerintah tinggal memelihara ekonomi agar terus naik. Itu sangat bergantung pada suasana dan kebijakan yang diciptakan. Tahun ini saya melihat pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 5,5 persen,” jelasnya.
Kendati begitu, untuk 2026, pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen, sementara Bank Indonesia berada di kisaran 5,1–5,6 persen. Proyeksi optimistis ini diyakini akan berdampak langsung pada sektor properti.
Mengacu pada konsep growth elasticity, Panangian menyebut pertumbuhan properti biasanya 1,5 hingga 1,7 kali pertumbuhan ekonomi. Artinya, jika ekonomi tumbuh 5,2 persen, sektor properti berpeluang melesat hingga 8 persen, bahkan mendekati 10 persen.
“Biasanya kalau properti sudah bangkit, arahnya menuju booming. Seperti era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, properti mulai bangkit pada 2009 dan booming pada 2010–2012. Properti menjadi tempat orang menaruh uang atau berinvestasi,” jelasnya.
Ia menilai, tahun 2026 menjadi momentum penting karena daya beli dan ekonomi nasional telah mencapai titik terendahnya. Selain tren penurunan suku bunga, pemerintah juga dinilai aktif menjaga momentum pemulihan melalui berbagai insentif, salah satunya perpanjangan Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) 100 persen.
“Dengan kata lain, masa sulit sudah dilewati. Pemerintah memelihara momentum ini lewat perpanjangan PPN DTP dan kemungkinan kebijakan lainnya. Di sinilah peran dialog antara pemerintah dan pengembang menjadi penting,” tukasnya.

Prediksi Skor Pantai Gading vs Norwegia di Piala Dunia 2026: Misi Erling Haaland Pulangkan Wakil Afrika
Prediksi Skor Amerika Serikat vs Bosnia dan Herzegovina di Piala Dunia 2026: The Stars and Stripes Tak Ingin Malu!
Prediksi Skor Belgia vs Senegal di Piala Dunia 2026: Setan Merah Emoh Angkat Koper Lebih Dulu!
Prediksi Skor Meksiko vs Ekuador di 32 Besar Piala Dunia 2026: Panggung Pembuktian Tuan Rumah!
Brasil vs Norwegia: Memori 1994 dan 1998, Misi Balas Dendam Generasi Emas Erling Haaland di Piala Dunia 2026
Prediksi Susunan Pemain Timnas Norwegia vs Pantai Gading di 32 Besar Piala Dunia 2026: Sudah Lakukan Rotasi, Martin Odegaard Siap Menan
Prediksi Skor Inggris vs RD Kongo di Piala Dunia 2026: Harry Kane Cs Diprediksi Menang, Tapi Laga Berjalan Alot
Prediksi Skor Meksiko vs Ekuador di Piala Dunia 2026: El Tri Difavoritkan Lolos ke 16 Besar!
Silaturahmi dengan Suporter PSIS, Malut United Pastikan Tak Pakai Nama Semarang dan Siap Mengalah soal Stadion
Prediksi Susunan Pemain Timnas Prancis vs Swedia di 32 Besar Piala Dunia 2026: Adrien Rabiot Waspadai Lini Serang Lawan
