
Presiden Jokowi meresmikan tujuh ruas Jalan Tol Trans Jawa.
JawaPos.com - Pembangunan Tol Trans Jawa yang menjadi program andalan Presiden dan Wakil Presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla, mengingatkan kita pada sejarah pada jaman kolonial Belanda berabad-abad lalu. Gubernur Hindia Belanda Herman Willem Daendels lewat tangan besinya memerintahkan untuk membangun jalan Anyer-Panarukan atau Jalan Raya Pos yang panjangnya mencapai 1.000 kilometer. Tujuan awalnya adalah untuk kepentingan ekonomi.
Pembangunan jalan yang hanya menelan waktu satu tahun ini telah menelan ribuan nyawa dan dikenal sebagai genosida terbesar sepanjang sejarah. Tak terhitung jumlah nyawa yang melayang akibat pengerjaan jalan tersebut.
Jika ditarik kesimpulan, tujuan dari pembangunan infrastruktur itu adalah sama-sama untuk menggerakkan ekonomi. Meski, sejatinya perlu banyak pengorbanan yang harus dilakukan pada masa pembangunan. Jika pembangunan jalan Anyer-Panarukan yang mengorbankan nyawa rakyat, saat ini pengorbanan yang harus dilakukan adalah dari sisi pembiayaan.
Pemerintah meski berutang demi membangun infrastruktur yang disebut sebagai juru kunci pembangunan serta penggerak roda ekonomi. Kendati, dampaknya tidak langsung terjadi dalam jangka pendek.
Tol Trans Jawa barangkali menjadi produk infrastruktur yang paling kentara. Hingga akhir 2018, Tol Trans Jawa yang sudah bisa beroperasi 901,03 kilometer yaitu dari Merak sampai ke Pasuruan.
“Kalau dulu Daendels dari Anyer sampai Panarukan sekarang dari Banyuwangi sampai ke Merak," kata Jokowi beberapa waktu lalu.
Dikutip dari website resmi BPJT, biaya investasi yang harus dikeluarkan untuk membangun Trans Jawa dari Pejagan-Banyuwangi adalah Rp 67,94 triliun, biaya kontruksi Rp 44,15 triliun dan biaya pembebasan lahan senilai Rp 6 triliun. Terdapat 9 badan usaha jalan tol (BUJT) yang bahu membahu untuk membangun Trans Jawa melalui berbagai macam model pendanaan.
Adapun rincian jalan yang membentang dari ujung barat Jawa hingga ujung timur Jawa adalah sebagai berikut:
1, Merak-Pejagan = 368,25 km (beroperasi penuh)
2, Pejagan - Solo = 244,34 km
3. Pejagan - Pemalang = 57,50 km
4. Pemalang - Batang = 39,20 km
5. Batang - Semarang = 75 km (fungsional tanpa tarif)
6. Semarang - Solo = 72,64 km (Boyolali- Kartasuro tanpa tarif)
7. Solo - Mojokerto = 217,82 km (beroperasi penuh kecuali Wilangan-Kertosono)

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
