
Ilustrasi Galeri terbaru Lantekayu. (Istimewa)
JawaPos.com–Model bisnis showroom material interior mulai mengalami pergeseran. Jika dulu ruang pamer identik dengan deretan sampel dan katalog produk, kini sejumlah pelaku industri mencoba mengubahnya menjadi ruang interaksi dan kolaborasi.
Fenomena ini terlihat dalam pembukaan Experience Gallery Lantekayu di kawasan Citraland Surabaya, bertepatan dengan 25 tahun kiprah perusahaan tersebut di industri material interior. Perubahan konsep ini mencerminkan dinamika pasar hunian yang ikut bergerak.
Konsumen tak lagi hanya mempertimbangkan harga dan spesifikasi teknis, tetapi juga pengalaman ruang, nilai estetika, serta keberlanjutan desain. Di sisi lain, arsitek dan desainer interior membutuhkan ruang temu yang lebih fleksibel untuk berdiskusi dengan klien maupun berjejaring dengan sesama profesional.
Galeri terbaru Lantekayu dirancang Chrystalline Architects Jakarta dengan pendekatan yang lebih terbuka dan komunal. Konsep yang diusung adalah ruang tropis yang memungkinkan berbagai aktivitas, mulai dari presentasi desain, diskusi proyek, hingga pameran skala kecil. Tata ruangnya dibuat tidak kaku seperti toko, melainkan menyerupai ruang bersama yang cair.
Dalam peresmian ruang tersebut, digelar pula mini eksibisi yang menghadirkan karya sembilan arsitek Indonesia. Formatnya berupa pop-up exhibition dengan maket, foto arsitektur, dan presentasi visual yang menyoroti pendekatan desain masing-masing proyek.
Beberapa karya yang ditampilkan antara lain Gereja Sukamara karya Paulus Setyabudi, Meditation Center Bromo rancangan Otto dari Otto Architecture, hingga Private Villa at Araya di Malang karya Hidajat Endramukti.
Ada pula proyek hunian dan komersial lain yang memperlihatkan eksplorasi material kayu dalam konteks tropis kontemporer. Seluruh dokumentasi visual proyek dalam pameran ini diabadikan oleh fotografer arsitektur Mario Wibowo, sehingga pengunjung dapat melihat bagaimana detail material berperan dalam membentuk karakter ruang.
Kehadiran sejumlah arsitek dan figur publik seperti Daniel Mananta dalam acara tersebut turut menambah diskusi mengenai pentingnya detail material dalam membangun identitas hunian. Namun, sorotan utama tetap pada pergeseran fungsi ruang pamer itu sendiri.
Dalam diskusi yang berlangsung saat pembukaan, Paulus Setyabudi menyinggung pentingnya ruang kolaboratif bagi generasi kreatif. Menurutnya, desainer muda membutuhkan wadah yang tidak hanya menampilkan karya, tetapi juga memungkinkan dialog lintas disiplin, baik arsitektur, seni rupa, maupun desain interior.
Pandangan ini sejalan dengan tren global yang menunjukkan bahwa showroom kini berkembang menjadi experience space. Beberapa brand material di kota-kota besar dunia mulai mengintegrasikan ruang pamer dengan workshop, diskusi komunitas, hingga instalasi seni temporer.
Kolaborasi internasional juga terlihat dalam acara tersebut melalui dukungan tim Reynaers Aluminium yang bekerja sama dengan sister brand Eurotekno. Hal ini menunjukkan bahwa industri material interior semakin terhubung dengan jaringan global, terutama dalam hal teknologi dan standar kualitas.
Transformasi showroom juga disebut menjadi ruang komunal mencerminkan perubahan cara industri membangun relasi. Jika sebelumnya hubungan bisnis berfokus pada transaksi produk, kini pendekatan yang ditawarkan lebih berbasis pengalaman dan komunitas.
Surabaya sebagai kota dengan pertumbuhan properti dan hunian yang cukup aktif dinilai memiliki potensi untuk model ruang semacam ini. Keberadaan galeri berbasis kolaborasi bisa menjadi alternatif ruang temu bagi arsitek dan desainer lokal yang selama ini lebih banyak beraktivitas secara terpisah.
Meski demikian, keberhasilan konsep ini tetap akan ditentukan oleh konsistensi program dan keterbukaan ruang tersebut terhadap komunitas. Tanpa aktivitas berkelanjutan, showroom berkonsep komunal berisiko kembali menjadi sekadar ruang display dengan kemasan baru.
Perubahan ini menunjukkan satu hal, industri material interior tidak lagi hanya berbicara soal produk. Tapi juga tentang bagaimana ruang diciptakan untuk membangun jejaring, gagasan, dan pengalaman.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
