
Sekjen PKS Habib Aboebakar Alhabsyi. (Muhamad Ridwan/Jawa Pos)
JawaPos.com - Anggota Komisi III DPR RI, Habib Aboe Bakar Alhabsyi, melontarkan kritik terhadap pernyataan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mengenai kasus penganiayaan berat yang dialami perempuan berinisial YTR, 29, di Bandung, Jawa Barat.
Menurutnya, pandangan Komnas Perempuan yang menyebut kasus tersebut belum dapat dikategorikan sebagai penyiksaan berdasarkan Konvensi Anti-Penyiksaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dinilai kurang mencerminkan kepekaan terhadap penderitaan korban.
Habib Aboe menegaskan, penilaian terhadap dugaan penyiksaan seharusnya tidak semata-mata mengacu pada instrumen internasional, sebab Indonesia telah memiliki landasan hukum nasional yang mengatur secara tegas mengenai definisi penyiksaan.
"Kita tidak perlu jauh-jauh beralasan menggunakan konvensi internasional jika instrumen hukum nasional kita sudah sangat tegas. Berdasarkan Pasal 1 angka 4 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (UU HAM), penyiksaan adalah setiap perbuatan yang dilakukan dengan sengaja, sehingga menimbulkan rasa sakit atau penderitaan yang hebat, baik jasmani maupun rohani," kata Habib Aboe Bakar kepada wartawan, Minggu (28/6).
Legislator Fraksi PKS itu juga mengingatkan bahwa hak untuk bebas dari penyiksaan merupakan hak asasi yang dijamin konstitusi. Ia merujuk Pasal 33 ayat (1) UU HAM yang menyatakan, "Every person has the right to be free from torture" (Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan, penghukuman atau perlakuan yang kejam, tidak manusiawi, merendahkan derajat dan martabat kemanusiaannya).
Berdasarkan ketentuan tersebut, Habib Aboe mempertanyakan alasan Komnas Perempuan yang belum mengkategorikan penganiayaan terhadap YTR sebagai bentuk penyiksaan.
"Jika penganiayaan berat yang dialami YTR itu belum dianggap sebagai penyiksaan, lalu kekerasan seperti apalagi menurut Komnas Perempuan yang baru dapat dikualifikasikan sebagai penyiksaan? Apakah harus menunggu dampak yang lebih fatal baru sebuah tindakan diakui sebagai penyiksaan terhadap perempuan?" ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar Komnas Perempuan tidak terjebak dalam perdebatan mengenai definisi yang justru berpotensi mengaburkan fokus utama, yakni perlindungan terhadap korban. Menurutnya, lembaga tersebut harus kembali menjalankan mandat yang telah diberikan sejak awal pembentukannya.
"Saya mengingatkan, tugas utama Komnas Perempuan itu sangat jelas, yaitu mengembangkan kondisi yang kondusif bagi penghapusan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan penegakan hak-hak asasi manusia perempuan di Indonesia. Selain itu, mereka wajib meningkatkan upaya pencegahan dan penanggulangan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan perlindungan hak-hak asasi perempuan," papar Habib Aboe.

Prediksi Skor Afrika Selatan vs Kanada di Piala Dunia 2026: Jonathan David Penentu Les Rouges Lolos 16 Besar
Prediksi Skor Brasil vs Jepang di Piala Dunia 2026: Kans Selecao Lolos 16 Besar Lewat Adu Penalti
Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris PT Krakatau Posco, Netizen: Muak Sekali
Prediksi Skor Jerman vs Paraguay di Piala Dunia 2026: Der Panzer Bisa Amankan Tiket 16 Besar dalam 90 Menit
Prediksi Skor Belanda vs Maroko di Piala Dunia 2026: Oranje Dijagokan Menang Tipis Kontra Singa Atlas
Prediksi Skor Aljazair vs Austria di Piala Dunia 2026: Tiket 32 Besar Dipertaruhkan, Duel Sengit Berpotensi Imbang
Sejarah! Indonesia Juara AVC Men's Cup 2026 Hancurkan Korea Selatan 3-0
Pakai Tas Mewah, Tiga Pengasuh Anak-anak Raffi Ahmad-Nagita Slavina Sedang Asik Liburan Jadi Sorotan
Prediksi Susunan Pemain Timnas Brasil vs Jepang di 32 Besar Piala Dunia 2026: Marquinhos Akui Samurai Biru Sedang Percaya Diri
Start P7 di Sirkuit Assen! Veda Ega Pratama Bongkar Penyebab Crash di Practice Moto3 Belanda 2026
