Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 14 Juni 2026 | 23.21 WIB

Dasco Yakin Rupiah Kembali Menguat Setelah BI Kerja Sama dengan Tiongkok dan Hong Kong

Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad di Gedung DPR, Senin (8/6). (Istimewa) - Image

Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad di Gedung DPR, Senin (8/6). (Istimewa)

JawaPos.com - Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, meyakini nilai tukar rupiah akan kembali menguat setelah Bank Indonesia (BI) melakukan berbagai kebijakan. Langkah itu dilakukan BI dengan melakukan kerja sama Bilateral Currency Swap Arrangement (BCSA) antara BI dan People’s Bank of China (PBOC).

Kesepakatan tersebut ditandatangani langsung oleh Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, bersama Gubernur PBOC, Pan Gongsheng, di Shanghai, China, pada 11 Juni 2026.

Menurut Dasco, kerja sama itu menjadi langkah penting dalam memperkuat transaksi perdagangan antarnegara tanpa harus bergantung pada dolar Amerika Serikat (AS).

"Kesepakatan itu membuat transaksi antara Indonesia, China Daratan dan Hong Kong bisa lakukan dengan menggunakan rupiah atau remimbi tanpa harus menggantungkan pada dollar Amerika Serikat," kata Dasco kepada wartawan, Minggu (14/6).

Selain kerja sama BCSA, penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) terkait Local Currency Transaction (LCT) juga diperluas hingga mencakup wilayah Hong Kong. Dalam penandatanganan tersebut turut hadir Chief Executive Hong Kong Monetary Authority (HKMA), Eddie Yue.

Dasco menyatakan, kerja sama itu juga mencakup implementasi QRIS lintas negara antara Indonesia dan China. Dengan sistem tersebut, pelaku usaha dari kedua negara dapat melakukan transaksi pembayaran secara langsung menggunakan QRIS.

"Sistem ini sudah melibatkan 191 penyedia layanan di China dan 24 di Indonesia semuanya terhubung," ujarnya.

Lebih lanjut, Dasco mengungkapkan bahwa kesepakatan antara Bank Indonesia dan PBOC memungkinkan transaksi ekspor-impor Indonesia dan Tiongkok yang pada 2025 mencapai USD 154,5 miliar dilakukan menggunakan skema LCT, yakni transaksi memakai rupiah dan renminbi tanpa ketergantungan terhadap dolar AS.

"Ini upaya yg sangat serius mengurangi kebutuhan dolar Amerika Serikat untuk transaksi dagang. Termasuk digunakannya QRIS lintas negara antara Indonesia-Tiongkok. Hal ini dilakukan BI untuk memperkuat Rupiah," pungkasnya.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore