
Wakil Ketua Badan Legislasi DPR RI, Martin Manurung. (Istimewa).
JawaPos.com - Wakil Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR RI, Martin Manurung, menegaskan pentingnya kesamaan pandangan dari para pemangku kebijakan serta prosedur yang terintegrasi dalam mengurai persoalan masyarakat adat. Hal ini disampaikan Martin dalam Focus Group Discussion (FGD) Badan Keahlian DPR RI terkait RUU Masyarakat Hukum Adat di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (2/10).
Menurut Martin, salah satu problem utama yang dihadapi masyarakat adat adalah tersebarnya pengaturan di berbagai regulasi yang menimbulkan ego sektoral antar kementerian dan lembaga. Kondisi ini justru mempersulit masyarakat adat memperoleh pengakuan haknya.
"Masalahnya, akhirnya kemudian ada ego sektoral yang terjadi. Contoh dari Kementerian Kehutanan, tentu fokusnya adalah hutan adat yang berada dalam kawasan hutan negara. Lalu ATR/BPN fokusnya adalah tanah ulayat dan proses pendaftaran tanah," kata Martin.
Ia menjelaskan, perbedaan fokus antar kementerian kerap memunculkan ketidakcocokan, bahkan konflik di lapangan. Misalnya, jika suatu wilayah adat diklaim masuk kawasan hutan oleh Kementerian Kehutanan, maka proses pengakuannya harus lewat mekanisme hutan adat. Sebaliknya, jika berada di luar kawasan hutan, mekanismenya melalui ATR/BPN.
"Untuk itu, diperlukan kesamaan pandangan dan prosedur yang terintegrasi terhadap hal tersebut. Sehingga masyarakat adat tidak menemui birokrasi yang berbelit-belit ketika ingin mendapatkan pengakuan, baik itu hutan adat maupun tanah ulayat," jelas Martin.
Ia juga menyoroti praktik tumpang tindih antara kawasan hutan adat, tanah ulayat, dan area tambang. Seringkali, kata Martin, perizinan tambang justru berbenturan dengan hak masyarakat adat.
"Apalagi ada ego sektoral, tambah lagi. Karena sering juga kawasan tambang ketika ingin mengajukan izin, itu juga bersinggungan juga dengan kawasan hutan adat ataupun kawasan tanah ulayat," tegasnya.
Legislator Fraksi Partai NasDem itu menambahkan, diperlukan political will bersama agar status masyarakat adat yang sejatinya dijamin konstitusi tidak lagi berada dalam ketidakjelasan regulasi. Ia menilai, RUU Masyarakat Hukum Adat akan mempertegas posisi hukum masyarakat adat sekaligus memberikan kepastian bagi dunia investasi.
"Ketika (investasi) menghadapi masyarakat adat, bukan sekonyong-konyong sekelompok masyarakat yang mengaku masyarakat adat, tapi dia udah punya pengakuan yang jelas, pelindungannya jelas, sehingga mereka tahu berurusan dengan siapa," pungkasnya.

Prediksi Skor Amerika Serikat vs Bosnia dan Herzegovina di Piala Dunia 2026: The Stars and Stripes Tak Ingin Malu!
Prediksi Skor Swiss vs Aljazair di Piala Dunia 2026: Granit Xhaka Cs Siap Libas El Khadra Demi Tiket 16 Besar
Prediksi Skor Spanyol vs Austria di Piala Dunia 2026: Lamine Yamal Jadi Pembeda
Prediksi Skor Belgia vs Senegal di Piala Dunia 2026: Setan Merah Emoh Angkat Koper Lebih Dulu!
Brasil vs Norwegia: Memori 1994 dan 1998, Misi Balas Dendam Generasi Emas Erling Haaland di Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Portugal vs Kroasia di 32 Besar Piala Dunia 2026: Joao Felix Pede Singkirkan Skuad Vatreni!
Prediksi Skor Inggris vs RD Kongo: Bursa Jagokan Three Lions, Opta Beri Peluang Menang 73,9 Persen
Silaturahmi dengan Suporter PSIS, Malut United Pastikan Tak Pakai Nama Semarang dan Siap Mengalah soal Stadion
Ditunggu Saja! Persebaya Surabaya Siapkan 7 Pemain Asing Baru Usai Rombak Skuad Musim Lalu
Prediksi Skor Portugal vs Kroasia di Piala Dunia 2026: Misi Berat Cristiano Ronaldo Cs Lolos ke 16 Besar
