"Karenanya bagi anggota, kader, dan pimpinan Muhammadiyah diharapkan memahami Risalah Islam Berkemajuan secara konsisten serta jauhi pandangan keislaman yang parsial, dangkal, sempit, dan ekstrem," kata Haedar saat menyampaikan sambutan dalam Apel Akbar KOKAM dalam rangka Milad ke-8 Universitas Muhammadiyah Bandung (UMB), Minggu (30/6).
Haedar juga mengingatkan, Angkatan Muda Muhammadiyah hendaknya senantiasa menjaga integritas diri, sehingga mampu menjadi insan yang amanah, jujur, dan cerdas. Serta menjunjung tinggi marwah dan kepentingan Persyarikatan Muhammadiyah.
"Seluruh anggota, kader, dan pimpinan Muhammadiyah di segenap tingkatan dan lini organisasi agar tetap bersikap cerdas, seksama, dan bijaksana dalam menghadapi dinamika dan masalah kebangsaan baik yang bersifat umum maupun terkait Persyarikatan dalam satu barisan yang kokoh," ucap Haedar.
Ia pun meminta warga persyarikatan dapat menjauhi pandangan dan sikap mengambil langkah sendiri-sendiri yang merugikan kesatuan gerak, misi, dan sistem organisasi. Serta mampu menjaga seluruh aset dan kepentingan organisasi.
"Posisikan Persyarikatan di atas pandangan, persepsi, dan kepentingan sendiri demi tegaknya Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam yang terorganisasi rapi dalam menjalankan misi dakwah dan tajdid untuk mencerdaskan umat, memajukan bangsa, dan mencerahkan semesta," papar Haedar.
Haedar menyatakan, Muhammadiyah bersama sejumlah komponen bangsa telah ikut mendirikan negara dan bangsa Indonesia pada 1945. Sehingga telah membuktikan kiprah dan kontribusinya yang nyata untuk Indonesia jauh sebelum kehadiran partai politik, media massa, serta kekuatan-kekuatan nasional lain yang kini menjadi bagian dan komponen integral Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Karenanya Muhammadiyah telah teruji kiprahnya di sejumlah bidang kehidupan dalam berkhidmat untuk Negara Indonesia yang tidak dapat dianggap kecil dan dimarjinalkan keberadaan serta peranannya di Republik ini,” tegas Haedar.
Selain itu, Muhammadiyah dalam momentum krusial telah memberikan kontribusinya yang signifikan seperti dalam lahirnya “Gentlemen Agreement” dari Piagam Jakarta untuk perumusan Sila pertama Pancasila yakni Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai solusi terbaik untuk menyelematkan keutuhan bangsa.
"Muhammadiyah dalam mempertahankan kedaulatan Negara Republik Indonesia dari agresi Belanda tahun 1947 membentuk Askar Perang Sabil (APS) yang membuktikan perjuangan fisik demi tegaknya Indonesia Merdeka. Demikian halnya dalam perjuanga fase-fase berikutnya hingga terlibat dan berdiri di garis depan dalam gerakan reformasi 1998 untuk Indonesia yang demokratis," pungkasnya.