Rektor IPMI International Business School, Prof Aman Wirakartakusuma dalam Power Talk bertajuk
JawaPos.com - Setelah dihantam pandemi, dinamika perekonomian global menghadapi tantangan yang berat saat ini hingga tahun-tahun mendatang. Berbagai persoalan seperti ketegangan geopolitik global, gangguan pasokan makanan, kekurangan energi, secara kolektif membentuk apa yang oleh para ahli disebut sebagai polikrisis.
Hal itu dikatakan Rektor IPMI International Business School, Prof Aman Wirakartakusuma dalam Power Talk bertajuk 'Thinking about Indonesia Business Environment 2024 - 2025' di Kampus IPMI, Kalibata, Jakarta, baru-baru ini. Diskusi itu juga menghadirkan pembicara mantan Direktur USC Marshall School of Business, Prof. Richard Drobnick.
Prof Aman menjelaskan, ketegangan geopolitik menyebabkan konsep deglobalisasi semakin menonjol, yang menyebabkan negara-negara besar mengubah arah kebijakan ekonomi mereka sehingga berdampak besar bagi seluruh perekonomian global.
Negara-negara di dunia sedang mempertimbangkan kembali kekuatan dan ketahanan lokal mereka di berbagai bidang seperti sistem pangan berkelanjutan, dan memprioritaskan ketahanan pangan nasional dengan larangan ekspor.
"Beberapa pihak menunjuk pada peristiwa seperti Brexit, Trumpisme, perang Ukraina, masalah rantai pasokan, krisis energi global, dan penurunan investasi asing langsung selama satu dekade sebagai indikatornya. Para pembuat kebijakan berupaya menemukan keseimbangan yang tepat antara solusi global dan lokal di berbagai bidang, mulai dari perdagangan hingga perubahan iklim dan migrasi," ujar Prof Aman dalam keterangan tertulisnya kepada JawaPos.com.
Ditambahkan Prof Aman, situasi nasional dan global menghadirkan agenda yang penuh tantangan, yang berdampak pada kebijakan publik dan berdampak pada lingkungan bisnis.
Termasuk, pengaruh lanskap politik terhadap perdagangan dan arus keuangan dapat melemahkan kepercayaan terhadap investasi internasional. Kendati demikian, kekuatan deglobalisasi mampu mengatasi permasalahan dalam negeri tertentu, serta representasi perdagangan global yang adil memerlukan standar internasional yang dapat ditegakkan.
Sementara itu, Prof Richard Drobnick mengatakan, krisis energi akibat perang di Ukraina menambah kompleksitas permasalahan yang ada, sehingga menciptakan krisis multidimensi yang memperburuk perekonomian. Di dunia Barat saat ini, terdapat pergeseran ke arah skeptisisme yang lebih besar terhadap pendekatan global dibandingkan dengan optimisme pada tahun 1990an.
"Deglobalisasi ditandai oleh munculnya semangat menempatkan kepentingan nasional sebagai hal yang lebih penting ketimbang kepentingan bersama skala global. Jadi ada kemunduran integrasi global, kebijakan proteksionisme makin marak, dan peningkatan semangat populisme," ucapnya.
Menurutnya, gejala deglobalisasi berpotensi menimbulkan konflik besar di masa yang akan datang. Oleh karena itu, setiap negara harus memperkuat ketahanan nasional di berbagai bidang yang disertai optimalisasi kemandirian industri sehingga bisa survive dari gempuran era baru deglobalisasi.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
