Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 8 Agustus 2023 | 02.18 WIB

Usai Guntur Romli, Kini Kader PSI Lainnya Ramai Mengundurkan Diri

Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Giring Ganesha (kedua kiri) bergandengan tangan dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (tengah), Wakil Ketua Dewan Pembina PSI Grace Natalie (kedua kanan), Sekretaris Dewan Pembina PSI Raja Juli An - Image

Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Giring Ganesha (kedua kiri) bergandengan tangan dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (tengah), Wakil Ketua Dewan Pembina PSI Grace Natalie (kedua kanan), Sekretaris Dewan Pembina PSI Raja Juli An

JawaPos.com - Mohamad Guntur Romli sebelumnya memutuskan untuk keluar dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Keputusan itu diduga berkaitan dengan kedatangan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto ke kantor DPP PSI, Jakarta, pada Rabu (2/8) lalu.
 
Setelah Guntur Romli, langkah serupa juga dilakukan kader PSI lainnya yakni, Dwi Kundoyo dan Estugraha. Mereka mengundurkan diri dari PSI, lantaran tak terima elite dan parpol pimpinan Giring Ganesha menerima kunjungan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto. 
 
Kedua mantan kader PSI itu merasa sudah bermain mata dengan Prabowo yang dinilai punya sejarah kelam dengan pemerintahan Orde Baru. “Saya sekaligus menyatakan mundur sebagai caleg dan keluar dari PSI, dari keanggoataan PSI,” kata Dwi dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (7/8).
 
Dwi menyampaikan, dirinya yang merupakan Caleg PSI dari untuk DPRD DKI Jakarta, sedangkan Estu caleg PSI untuk DPRD Kota Bogor. Karena itu, keduanya menyatakan mundur dari proses pencalegan di PSI dan fokus memenangkan Ganjar Pranowo melalui kelompok sukarelawan Ganjarian Spartan.
 
 
Dwi pun menyatakan, pihaknya awalnya tertarik berjuang bersama PSI, karena parpol tersebut berdasarkan hasil Rembuk Rakyat yang diadakan pada Oktober 2022, menetapkan Ganjar Pranowo sebagai calon presiden (capres).
 
“Namun belum sampai menunaikan amanah organisasi, PSI saya anggap sudah main mata dengan Prabowo Subianto. Kehadiran Prabowo ke kantor DPP PSI, yang disambut hangat buat saya sudah mencederai semangat dan pandangan perjuangan saya selama ini,” ucap Dwi.
 
Dwi mengungkapkan, saat menjadi mahasiswa dan menjadi Ketua Umum Senat Mahasiswa pada 1994, dirinya dan beberapa teman-teman aktivis mendirikan Forum Komunikasi Senat Mahasiswa se-Jakarta (FKSMJ).
 
Dia menyampaikan, saat itu FKSMJ salah satu kekuatan terbesar mahasiswa yang berhasil menjatuhkan pemerintahan otoriter Soeharto. Ia menyebut, Prabowo Subianto juga diduga turut mendapat banyak kekebalan melalui praktek KKN.
 
 
“Yang kita tahu, isu KKN adalah salah satu pondasi perjuangan mahasiswa saat itu hingga hari ini, Probowo Subianto banyak menikmati pemerintahan korup Orba, mulai dari karier di militer hingga jejaring bisnis yang mengurita," ucap Dwi.
 
Dwi juga menyampaikan penolakan dirinya terhadap Probowo Subianto sudah dimulai sejak menjadi anggota HMI pada 1992. Saat itu, ia mengaku menyuarakan keadilan dan kemanusiaan bagi seluruh rakyat Indonesia. 
 
“Pada pilpres 2014-2019, saya memilih Jokowi, di samping karena rekam jejak dan hasil karya Pak Jokowi, satu sisi karena saya menolak Prabowo Subianto menjadi pemimpin di Indonesia," pungkas Dwi.
Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore