Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 29 Januari 2019 | 18.40 WIB

Soal Pernyataan Kiai Said, Muhammadiyah: Tetap Ciptakan Suasana Tenang

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir - Image

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir

JawaPos.com - Pernyataan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj menjadi perdebatan di masyarakat. Diketahui, dalam kunjungannnya dalam Hari Lahir Muslimat NU ke-73, kiai asal Cirebon, Jawa Barat itu menyebut peran di sektor agama harus diambil oleh NU.


Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengimbau kepada masyarakat supaya bijak menanggapi pernyataan Kiai Said. Dia meminta untuk tidak terbawa suasana politik.


"Tetap ciptakan suasana tenang dan ukhuwah, tidak perlu bereaksi melebihi takaran. Tunjukkan warga persyarikatan cerdas dan dewasa," kata Haedar dalam keterangannya, Selasa (29/1).


Haedar menuturkan, Muhammadiyah tentu sangat berharap dan berpandangan tegas bahwa negara dan instansi pemerintahan harus menjadi milik bersama. Sebab itu tertuang dalam amanat konstitusi, sehingga tidak menjadi milik golongan.


Menurutnya, pemerintahan harus berasaskan pada meritokrasi atau dasar kepantasan dan karir, bukannya pada kriteria primordialisme atau sektarianisme.


"Jika Indonesia ingin menjadi negara modern yang maju, maka bangun good governance dan profesionalisme, termasuk di Kementerian Agama," ucapnya.


Jika berdasarkan golongan, apalagi dijadikan milik golongan tertentu, maka primordialisme dibiarkan masuk dan dominan dalam institusi pemerintahan yang akan menghilangkan objektivisme dan prinsip negara milik semua.


"Bahayanya jika hal itu dibiarkan akan menjadi preseden buruk bagi demokrasi, bahkan dapat memicu konflik atau perebutan antargolongan di Indonesia," imbuhnya.

Oleh karenanya, Haedar mengimbau untuk tidak didominasi oleh satu golongan apalagi bermazhab golongan tertentu. "Karena pandangan golongan itu mengasingkan komponen bangsa lainnya dengan menganggap diri paling benar. Hal itu merupakan bentuk dari fanatisme dan menjurus ke radikalisme. Mau dikemanakan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika?" tegasnya.

Selain itu, Haedar juga berharap, hendaknya semua tokoh umat beragama mengedepankan ukhuwah secara otentik untuk merajut kebersamaan nan tulus dan tidak mengedepankan egoisme golongan.

"Di tahun politik ini bahkan jauhi ujaran-ujaran yang berpotensi menumbuhkan retak di tubuh umat dan bangsa, jika ingin Indonesia rukun dan utuh sebagaimana sering disuarakan dengan penuh gelora," jelas Haedar.

Sebelumnya, Ketua Umum PBNU Said Aqil Siraj, meminta muslimat NU berperan di masyarakat. Misalnya peran agama, harus diambil oleh NU.


"Muslimat keren tidak? Hebat tidak? Berperan? Supaya apa keren, wasaton, agar berperan di tengah-tengah masyarakat. Peran apa? Peran agama, harus kita pegang, imam masjid, khatib-khatib, KUA-KUA harus dari NU. Kalau dipegang selain NU, salah semua," ucap Said di Harlah Muslimat NU ke-73 di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu (27/1).

Editor: Fersita Felicia Facette
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore