
Gema Bhinneka Tunggal Ika menilai sejarah kelam bangsa Indonesia tak boleh terulang kembali. Terutama saat masa-masa Orde Baru, di mana banyak pembungkaman terhadap para aktivis dan pers.
JawaPos.com - Mendekati pemilihan presiden (Pilpres) pada 17 April 2019 mendatang, rakyat Indonesia masih terus mengamati dan meneliti para calon presidennya (capres) agar tidak keliru dalam menentukan hak pilihnya. Kesadaran dan keintelektualan mahasiswa sebagai penyambung lidah rakyat, haruslah selalu menyampaikan yang sebagaimana baiknya.
Ketua Umum Gema Bhinneka Tunggal Ika, Gifari Shadad Ramadhan mengatakan bahwa sejarah kelam di Indonesia tidak boleh terulang kembali. Salah satunya mengenai persoalan Hak Asasi Manusia (HAM).
"Era pembungkaman penindasan dan penculikan sudah cukup mengisi perjalanan buruk bangsa Indonesia. Kami secara tegas tidak menginginkan paradigma sistem lama digunakan kembali terkhusus di zaman Orde Baru, yang tentu saja sangat bertentangan dengan sistem demokrasi Indonesia saat ini," kata Ghifari.
Ghifari menegaskan bahwa Indonesia harus dipimpin orang yang cerdas dan mempunyai visi untuk membangun Indonesia ke depan. "Mereka harus pro demokrati, tidak konservatif dengan menggunakan sistem lama dan juga bersih dari kasus pelanggaran HAM," tegas dia.
"Yang paling utama adalah yang pro kebhinekaan karena keseragaman di Indonesia harus tetap dijaga dan dirawat, maka dengan itulah Indonesia ke depan akan menjadi negara yang maju," lanjutnya.
Senada, Ketua Bidang Politik dan Hubungan Luar Gema Bhinneka Tunggal Ika, Boy Agustinus, menyakatakn isu terkuat untuk Pilpres hingga kini adalah mengenai HAM. Hal tersebut menjadi fokus dan sorotan bagi para aktivis mahasiswa.
“Suara kita aktivis mahasiswa dari waktu ke waktu tidak akan pernah berubah, meski pemilu ataupun tidak, aktivis selalu konsisten untuk menolak capres yang terindikasi kejahatan pelanggaran HAM untuk menjadi Presiden," ujar Boy.
Maka dari itu sebagai mahasiswa harus memilih secara cerdas siapa yang cocok untuk menjadi pemimpin 260 juta rakyat Indonesia yang beragam ini. "Jangan sampai salah pilih," pungkasnya.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
