
Presiden Joko Widodo (Jokowi)
JawaPos.com - Hasil temuan survei nasional dari Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Danny JA masih menempatkan elektabilitas Joko Widodo dinomor pertama. Namun kendati demikian, posisi mantan Wali Kota Solo itu belum aman lantaran tiga faktor penting ini.
Peneliti Senior LSI Danny JA, Adjie Alfaraby mengatakan, hal pertama yang harus diperhatikan Jokowi adalah persepsi publik mengenai permasalahan ekonomi.
Sebab, kata Adjie, saat ini yang menjadi perhatian publik adalah mahalnya harga-harga sembako, peningkatan pengangguran, dan sulitnya mencari lapangan kerja.
“Publik belum merasa aman dalam ekonomi. Secara umum masyarakat menilai pengangguran di zaman Jokowi ini meningkat,” ujar Adjie di Kantor LSI Danny JA, Jakarta, Jumat (2/2)
Dia menambahkan, dalam hasil surveinya responden yang menyatakan kebutuhan pokok semakin memberatkan sebesar 52,6 persen, sedangkan yang mengeluhkan pengangguran dan lapangan pekerjaan sebesar 48,4 persen dan 54 persen.
"Jadi poin pertama dari isu ekonomi, pengangguran meningkat dibandingkan sebelumnya, yang kedua kebutuhan pokok sehari hari mayoritas publik sebut kebutuhan pokok semakin berat, begitu pula lapangan kerja sulit didapatkan," ungkapnya.
Kedua, lanjut Adjie, saat ini Jokowi sangat rentan dengan isu primordial. Apalagi, isu politik identitas diprediksi juga akan mewarnai Pilpres 2019, sama halnya dengan pilkada Jakarta 2017 lalu.
Bahkan, dalam temuan hasil surveinya itu, menunjukan bahwa sebesar 32,5 persen responden menyatakan setuju bahwa agama dan politik harus dipisahkan. Sebaliknya, 40,7 persen responden menyatakan tidak setuju, agama dan politik harus dipisahkan dan 26,8 persen tidak menjawab.
“Ini terkait munculnya kelompok islam kanan yang kemudian menganggap bahwa dalam memilih pemimpin itu tidak terlepas dari ajaran agama,” imbuhnya.
Faktor terakhir, lanjut Adjie, para lawan politik Jokowi pun akan mengandalkan isu tenaga kerja asing khususnya dari Tiongkok guna menjatuhkan elektabilitasnya yang meroket.
"Survei menunjukan bahwa baru 38,9 persen yang mendengar isu ini. Dari yang mendengar, sebesar 58,3 persen menyatakan sangat tidak suka dengan isu ini, dan hanya 13,5 persen yang menyatakan suka atau tidak bermasalah dengan isu ini," pungkasnya.
Sekadar informasi, Survei dilakukan dengan menggunakan metode multistage random sampling dengan jumlah responden 1200 orang dengan margin of error kurang lebih 2,9%. Adapun penyebaran kuesioner dilakukan pada 7-14 Januari 2018.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
