Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 5 Januari 2019 | 07.40 WIB

Hoax 7 Kontainer Surat Suara Tercoblos, Moeldoko: Itu Teror Demokrasi

Tujuh kontainer surat suara dikabarkan sudah tercoblos pada kolom pasangan calon capres dan cawapres nomor urut 01 - Image

Tujuh kontainer surat suara dikabarkan sudah tercoblos pada kolom pasangan calon capres dan cawapres nomor urut 01

JawaPos.com - Berita bohong alias hoax soal adanya tujuh kontainer surat suara sudah tercoblos beberapa waktu lalu mengundang banyak tanggapan. Begitupun dengan Ketua Harian Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin, Moeldoko yang turut merespon kabar bohong tersebut.


Tujuh kontainer surat suara tersebut dikabarkan sudah tercoblos pada kolom pasangan calon capres dan cawapres nomor urut 01, Jokowi-Ma'ruf. Namun saat diselidiki kabar tersebut tidak benar adanya. Hingga akhirnya tahun politik Pilpres 2019 ini semakin panas atas kegaduhan tersebut.


"Itu teror demokrasi. Demokrasi perlu dibawa ke area yang tidak mengganggu. Ini sudah mengganggu," kata Moeldoko di Bandung, Jumat (4/1).


Menurutnya jika hoax tersebut dibiarkan begitu saja akan menimbulkan dampak negatif. Sehingga harus diklatifikasi agar masyarakat tidak termakan berita bohong itu.


"Bisa dibayangkan kalau ini diyakini oleh masyarakat, wah sudah 70 juta suara tercoblos (dalam tujuh kontainer), ini sebuah pendidikan politik yang terjelek sedunia," ujarnya.


Hal itu tidak akan terjadi, karena pihaknya baru beberapa waktu lalu menggelar pertemuan dengan calon petahana Jokowi membahas foto atau gambar yang akan digunakan untuk surat suara. Namun beberapa hari kemudian ramai adanya tujuh kontainer sudah tercoblos di kolom Jokowi-Ma'ruf.


"Kemaren baru minta persetujuan beliau (Jokowi), kok empat hari sudah ada berita itu, ada pencoblosan surat suara sebanyak tujuh kontainer yang berisi 70 juta suara, ini kan sinting," tuturnya.


Dalam menyikapi hoax tersebut, Moeldoko berpesan kepada seluruh pendukung Jokowi-Ma'ruf untuk tidak ikut serta membangun demokrasi yang menakutkan. Lebih baik demokrasi yang bisa membuat senang.


"Tidak perlu membangun demokrasi yang menakutkan. Demokrasi kita nikmati dengan enjoy, happy, mari kita pesta demokrasi," pungkasnya.

Editor: Erna Martiyanti
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore