Presiden Amerika Serikat (AS) bersalaman dengan Presiden RI Prabowo Subianto dalam penandatanganan piagam perdamaian Board of Peace Charter oleh para pemimpin negara di Davos, Swiss, Kamis (22/1).
JawaPos.com - Langkah Indonesia masuk sebagai anggota awal Board of Peace (BoP) langsung memantik perdebatan. Di satu sisi, keputusan itu membuka ruang baru bagi diplomasi Indonesia di panggung global.
Namun di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa Indonesia sedang memasuki arena yang sarat kepentingan kekuatan besar. Isu dominasi aktor global menjadi sorotan utama dalam diskusi yang digelar Global Insight Forum (GIF).
Dalam forum tersebut, sejumlah peneliti menilai struktur awal BoP tidak sepenuhnya steril dari pengaruh Amerika Serikat dan Israel, dua aktor yang selama ini berada di pusat dinamika geopolitik global.
Direktur Eksekutif GIF, Teuku Rezasyah, menegaskan bahwa Indonesia memang memiliki ruang untuk memainkan diplomasi kritis dari dalam. Namun ia mengingatkan bahwa realitas konfigurasi kekuasaan tidak bisa diabaikan.
"Indonesia memiliki peluang memperjuangkan diplomasi kritis dari dalam. Tetapi kita juga harus realistis melihat konfigurasi kekuasaan yang ada. Jika kepentingan nasional diabaikan, Indonesia memiliki legitimasi untuk mengambil sikap tegas," ujarnya secara daring, Sabtu (14/2).
Kekhawatiran lain muncul terkait masa depan multilateralisme. Peneliti Senior GIF, Chandra Purnama, menilai model keanggotaan BoP yang selektif berpotensi menggeser prinsip kesetaraan dalam hukum internasional menuju pola yang lebih hegemonik.
"Jika tata kelola global semakin berbasis hegemoni, maka norma dan multilateralisme akan tergerus. Indonesia sebagai middle power harus memperkuat otonomi strategis dan memimpin konsolidasi Global South," katanya.
Dari perspektif realisme politik, langkah Indonesia dinilai bukan semata idealisme, melainkan kalkulasi kepentingan. Senior Fellow GIF Faisal Nurdin menyebut partisipasi dalam BoP sebagai langkah pragmatis untuk menjaga posisi strategis Indonesia di tengah kompetisi global.
"Negara bertindak berdasarkan self-interest dan keseimbangan kekuasaan. Namun Indonesia tidak boleh sekadar mengikuti arus kekuatan besar, melainkan memanfaatkan perannya sebagai middle power secara strategis," ungkapnya.
Ia menambahkan, kontribusi Indonesia, termasuk rencana pengiriman pasukan perdamaian, dapat meningkatkan profil internasional Indonesia. Namun tanpa perhitungan matang, langkah tersebut juga berisiko menyeret Indonesia ke pusaran konflik kepentingan yang lebih besar.
Sorotan juga datang dari persepsi global. Peneliti Kebijakan dan Hubungan Internasional, Innayathul Fitrie, mengungkap bahwa media internasional merespons langkah Indonesia secara terbelah.
"Publik internasional akan menagih konsistensi Indonesia dalam merealisasikan komitmennya, terutama terkait dukungan nyata terhadap Palestina," terangnya.
Artinya, Indonesia tidak hanya menghadapi tekanan geopolitik dari dalam struktur BoP, tetapi juga sorotan reputasi dari luar. Jika komitmen tidak diikuti tindakan konkret, risiko kredibilitas menjadi taruhan berikutnya.
Moderator diskusi, Aan Fatwa, menekankan pentingnya transparansi agar kebijakan ini tidak terkesan elitis.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Ariel NOAH 18 Tahun Menduda, Dekat dengan Wulan Guritno di Ultah ke-45
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
7 Kebiasaan yang Bikin Ban Motor Cepat Botak, Mana yang pernah Kamu Lakukan?
Viral Pegawai BGN Sindir Korban Keracunan MBG Sambil Makan Chicken Katsu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Sudah Tak Jadi Menkeu, Uang Rp 100 Ribu Bertanda Tangan Purbaya Malah Diburu
10 Kali Sidang Kasus Kuota Haji, Saksi Beberkan Tak Ada Dugaan Kerugian Negara
Psikolog Umum Kompeten dan Siap Berikan Layanan di Puskesmas, Pendidikan, Organisasi serta Komunitas
Tak Lagi jadi Menkeu, Momen Purbaya Makan Bakso Berdua Istri dan Kembali Nyetir Sendiri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022