Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 14 November 2025 | 04.49 WIB

Anggota DPR Rivqy Abdul Halim Minta Investasi Rp 20 Triliun Danantara Harus Lindungi Peternak Mandiri

Anggota Komisi VI DPR RI, Rivqy Abdul Halim. (Istimewa)

JawaPos.com - Anggota Komisi VI DPR RI, Rivqy Abdul Halim meminta kepada Danantara agar mengkaji lebih jauh terkait rencana investasi Rp 20 triliun untuk sektor peternakan ayam broiler dan petelur. Dengan begitu, tidak merugikan kelompok peternak mandiri.

“Ini menjadi keresahan di kalangan peternak, terutama peternak telur mandiri. Mereka khawatir akan terdesak oleh peternakan besar yang akan dimodali Danantara,” ujar Rivqy di Jakarta, Kamis (13/11).

Legislator PKB itu mengatakan, pada masa lalu pernah terjadi persoalan peternak kecil merugi akibat masuknya investasi besar. Kondisi ini tidak boleh terulang.

“Dulu, ketika investasi besar masuk ke ayam pedaging, hampir semua peternak kecil ambruk. Hanya sedikit yang mampu bertahan, itu pun karena memiliki pasar langsung. Selebihnya berubah menjadi pekerja bagi perusahaan besar—mulai dari bibit, pakan, hingga vaksin dikendalikan oleh korporasi. Margin keuntungannya pun sangat kecil,” jelasnya.

Rivqy mengatakan, peternak ayam petelur (layer) relatif lebih mampu bertahan karena sebagian besar masih dikelola secara mandiri. Meski begitu, persoalan monopoli bibit dan pakan masih menjadi tantangan serius.

“Peternak layer ini sebenarnya menjadi tulang punggung kemandirian pangan protein hewani kita. Tapi kalau Danantara ikut masuk ke sektor ini tanpa perhitungan matang, dua-duanya bisa gulung tikar. Karena itu, kebijakan ini perlu dikaji ulang agar tidak mematikan peternak mandiri,” ungkapnya.

Atas dasar itu, Rivqy mendorong rencana investasi Danantara difokuskan untuk menyelesaikan persoalan mendasar di sektor peternakan, bukan sekadar menambah pemain besar.

“Kebijakan ini seharusnya fokus pada tiga hal utama, pertama, memperkuat sektor pembibitan (DOC) yang saat ini sulit diakses. Kedua, Intervensi terhadap ketersedian pakan ternak yang terjangkau dan berkualitas, sebab sementara ini mahal dan sulit didapat. Ketiga, jika ingin masuk ke produksi, sebaiknya diarahkan ke provinsi yang masih defisit produksi, bukan yang sudah surplus,” ucapnya

Di sisi lain, rivqy mengingatkan bahwa produksi telur nasional saat ini sebenarnya sudah surplus. “Data menunjukkan, produksi telur kita mencapai 6,5 juta ton, sementara kebutuhan nasional hanya sekitar 6 juta ton. Jadi arah investasi harus tepat, agar tidak menimbulkan kelebihan pasokan yang justru merugikan peternak kecil,” pungkasnya.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore