Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 12 Agustus 2025 | 17.39 WIB

Presiden Prabowo Dinilai Gunakan Strategi Militer untuk Cabut Loyalis Pemimpin Terdahulu

Ketua DPR RI Puan Maharani bersama Presiden Prabowo Subianto saat menghadiri Upacara Gelar Pasukan Operasional dan Kehormatan Militer 2025. (Istimewa) - Image

Ketua DPR RI Puan Maharani bersama Presiden Prabowo Subianto saat menghadiri Upacara Gelar Pasukan Operasional dan Kehormatan Militer 2025. (Istimewa)

JawaPos.com - Presiden Prabowo Subianto dinilai tengah menjalankan pola politik yang menyerupai strategi militer untuk memperkuat dominasinya di pemerintahan, sekaligus mencabut pengaruh loyalis pemimpin terdahulu secara perlahan. Sebagai mantan jenderal, Prabowo memiliki mentalitas strategis yang tidak hanya berorientasi pada kemenangan, tetapi juga pada penguasaan tanpa bentrokan terbuka.

Pengamat hukum dan politik, Rikardus Moan Baga, menyebut langkah Prabowo bukan sekadar manuver politik biasa. Prabowo menjalankan operasi setingkat militer, strategi ini dikenal dengan menang tanpa bertempur. 

"Dominasi ini dibangun lewat presisi, keheningan, dan penyusunan ulang kekuatan secara senyap,” kata Rikardus kepada wartawan, Selasa (12/8).

Menurut Rikardus, strategi ini terlihat dari cara Prabowo mengunci elite partai politik, menata ulang komposisi kekuasaan, serta memastikan posisi TNI dan Polri tetap netral dari loyalitas masa lalu. Semua ini dilakukan tanpa friksi terbuka dengan pemimpin sebelumnya, yang kini justru dijadikan patron simbolis, meski perlahan dilemahkan dari dalam.

“Ini mirip operasi infiltrasi strategis. Menyusup ke dalam sistem lawan, menciptakan kekosongan pengaruh di pusat komando, lalu mencabut akar kekuasaannya tanpa harus menjatuhkan figurnya secara langsung," ujarnya.

Ia mengibaratkan taktik ini seperti mengeringkan air di kolam alih-alih memukul ikan di dalamnya. Prabowo juga dikenal menggunakan apa yang disebut Rikardus sebagai controlled surprise atau efek kejut yang terukur. 

Misalnya, membuka koalisi dengan mantan lawan tanpa sinyal awal, atau menggeser arah kebijakan publik secara tiba-tiba namun terencana. Langkah-langkah ini menciptakan ketidakpastian sehingga lawan politik sulit memprediksi pergerakannya.

Selain itu, Prabowo dinilai memanfaatkan strategi operasi psikologis untuk melemahkan kohesi kekuatan lama. Caranya melalui penyampaian informasi ambigu, tindakan tak terduga, dan simbol-simbol yang membingungkan. Dengan begitu, loyalis lama kehilangan arah tanpa merasa sedang diserang secara frontal.

Rikardus menilai teknik ini adalah bentuk political decoupling memisahkan pengaruh seseorang dari sistem kekuasaan tanpa menyerang figurnya. 

“Prabowo menerima figur yang terkait pemimpin lama dalam pemerintahan, tapi di saat yang sama membentuk blok kekuasaan mandiri yang beroperasi di orbitnya sendiri,” jelasnya.

Langkah lain yang disebut Rikardus adalah penggalangan teknokrat dan elite lintas poros politik. Prabowo disebut membentuk kabinet bayangan yang siap mengeksekusi agenda barunya, sambil tetap mempertahankan simbol-simbol lama agar tidak menimbulkan resistensi terbuka.

“Dengan mengendalikan logistik, narasi, dan jaringan kekuasaan, Prabowo membuat pusat kendali bergeser ke arahnya. Pemimpin lama tidak lagi memegang kendali penuh, namun juga tidak punya alasan formal untuk melawan,” ucap Rikardus.

Lebih lanjut, Rikardus menegaskan bahwa strategi ini adalah tekanan pasif yang efektif. 

“Tidak ada benturan besar, tapi pengaruh lama terkikis hingga hilang pijakan. Inilah seni berpolitik dengan disiplin militer kemenangan yang lahir dari keheningan,” pungkasnya.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore