Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 28 Juni 2025 | 02.51 WIB

Minyak Jelantah MBG Akan Dijual untuk Bioavtur, DPR Ingatkan Pengelolaannya Harus Transparan

Ilustrasi siswa saat menyantap makanan pada program Makan Bergizi Gratis (MBG). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com) - Image

Ilustrasi siswa saat menyantap makanan pada program Makan Bergizi Gratis (MBG). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

JawaPos.com - Rencana pemanfaatan minyak jelantah dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk dijual sebagai bahan baku bioavtur mendapat sambutan hangat dari DPR RI. Anggota Komisi IX DPR, Nurhadi, menilai langkah tersebut sebagai bentuk nyata dukungan terhadap ekonomi hijau. Namun, ia menegaskan pentingnya transparansi dalam pengelolaannya.

“Langkah ini bagus, mendukung gerakan keberlanjutan dan ekonomi hijau. Dengan dijual untuk menjadi bioavtur, tentu ada kebermanfaatan baru," kata Nurhadi kepada wartawan, Jumat (27/6).

Ia mengingatkan agar alur distribusi dan pemanfaatan hasil penjualan minyak jelantah dari produksi MBG dapat dijelaskan secara rinci.

“Harus jelas, hasil penjualannya ke mana? Apakah dimasukkan sebagai tambahan pemasukan untuk SPPG? Kalau iya, uang itu digunakan untuk apa? Jangan sampai menimbulkan celah penyalahgunaan,” tegasnya.

Ia juga mengimbau, agar minyak jelantah dari program MBG tidak kembali digunakan untuk konsumsi masyarakat, mengingat risikonya bagi kesehatan.

Lebih jauh, Nurhadi mendorong pemerintah menyusun skema pengelolaan limbah terpadu dari kegiatan MBG yang berlangsung setiap hari. Menurutnya, jenis limbah dari dapur MBG sangat beragam dan berpotensi besar jika dikelola secara tepat.

“Limbah dari dapur MBG itu bukan hanya minyak jelantah. Ada juga sisa makanan, sayur-sayuran yang bisa dijadikan pupuk, sampai sampah plastik dan non-organik yang tak terurai,” jelasnya.

Sebelumnya, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, mengungkapkan bahwa setiap bulannya, dapur MBG yang dikelola oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menggunakan sekitar 800 liter minyak goreng. 

Dari jumlah itu, 550 liter atau sekitar 71 persen menjadi minyak jelantah. Dadan menyebut minyak jelantah tersebut bisa ditampung dan dijual kembali, bahkan diekspor, sebagai bahan baku bioavtur dengan estimasi harga Rp 7.000 per liter.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore