
Mantan Kepala Satkornas Banser Hasan Basri Sagala (kanan). (Dokumentasi GP Ansor)
JawaPos.com – Mantan Kepala Satkornas Banser, Hasan Basri Sagala menyatakan mundur dari kepengurusan Nahdlatul Ulama (NU).
Dia beralasan mematuhi AD/ART NU, karena maju sebagai Calon Wakil Gubernur Sumatera Utara mendampingi Edy Rahmayadi di Pilkada sumut 2024.
Seperti diketahui, Banser adalah badan semi-otonom di bawah naungan GP Ansor. Sementara GP Ansor adalah badan otonom (banom) di bawah naungan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.
Sekjen GP Ansor Rifqi Elmoe mengingat Hasan soal adanya janji dan baiat sebagai kader saat masuk GP Ansor.
Pria yang akrab disapa Gus Rifqi itu mengatakan, salah satu sumpah baiatnya adalah dengan segenap jiwanya siap menghadapi musuh dan penghianat terhadap Islam Ahlusunah wal Jama’ah (Aswaja), organisasi NU dan NKRI yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945.
"Baiat dan sumpah yang sudah diucapkan oleh kader bersifat mengikat dan pertanggungjawabannya langsung kepada Allah SWT," kata Gus Rifqi dalam keterangannya Jumat (30/8).
Respons Rifqi itu, menanggapi pernyataan Hasan Basri yang berpendapat dirinya sudah bukan lagi bagian dari keluarga besar NU.
Rifqi menilai, sebagai orang yang pernah aktif di NU seharusnya Hasan menyelami dan menghayati sumpah janji saat dibaiat. "Bukan berarti, setelah purna tugas, tidak terikat (dengan NU)," kata Rifqi.
Karenanya, Rifqi mengimbau seluruh kader Ansor untuk tidak main-main dengan baiat yang sudah diucapkan. "Bisa kualat nantinya. Kita mestinya sama-sama dan mengimbau satu sama lain agar terus menjaga martabat organisasi," kata dia.
Rifqi juga menyindir jiwa setengah hati Hasan dalam menjalankan tugas pemerintahan sebagai Tenaga Ahli Menteri Agama RI. Dia mengatakan tugas atau amanah yang diembannya belum juga usai, tetapi sudah terlibat politik elektoral.
Seperti diketahui, majunya Hasan Basri dalam Pilkada Sumatera Utara mendapat penolakan dari Ketua PW Ansor Sumut Adlin Tambunan.
Alasannya karena pasangan yang dipilihnya pernah mencoreng nama NU dan melukai warga Nahdliyin seluruh dunia. Adlin mengaku pihaknya masih sulit mendukung Edy lantaran pernah menghina GP Ansor pada 2019 yang lalu.
Usai mengikuti tes kesehatan di RSUP Adam Malik Medan pada Jumat (30/8), Hasan sempat memberikan keterangan pers kepada awak media. Khususnya terkait hubungannya dengan NU atau PBNU.
Dia menegaskan mundur dari NU karena menjalankan ketentuan AD/ART atau peraturan yang berlaku. Yaitu setiap pengurus yang maju dalam kontestasi politik, harus mundur.
"Karena juga saya telah mengundurkan diri dari NU, dari Tenaga Ahli Menag, dan di Banser saya sudah purna tugas," kata Hasan sebagaimana dikutip dari rilis resmi GP Ansor.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
