Anies Baswedan mengatakan dirinya dan Muhaimin Iskandar merupakan pasangan dwi tunggal.
JawaPos.com - Bacapres Koalisi Perubahan untuk Persatuan Anies Baswedan bertemu dengan anak-anak muda Banyumas di Kafe Sekawan, Purwokerto, Selasa (3/10). Dalam kesempatan itu, ia mendengarkan kekhawatiran-kekhawatiran pemuda soal pertanian, budaya, hingga tenaga kerja asing di Indonesia.
Di sektor pertanian, seorang pemuda bernama Wahid menyampaikan kegelisahannya terkait masa depannya yang merupakan mahasiswa pertanian sekaligus petani muda. Pasalnya, ia mengatakan bahwa petani di Indonesia saat ini tak sejahtera.
Menjawab hal itu, Anies sepakat dan mengatakan bahwa hal tersebut memang menjadi salah satu fokus utamanya saat menjadi presiden jika terpilih pada 2024 mendatang.
“Sektor pangan perlu perhatian ekstra, karena di satu sisi kita ingin harga pangan terjangkau di sisi lain kita juga ingin kesejahteraan petani meningkat,” ujarnya menanggapi curhatan Wahid, Selasa (3/10).
“Tapi di sisi lain, itu kita rasakan sulit, harga yang harusnya sampai ke petani malah hilang di tengah atau di tengkulak, sehingga yang kita perlu perbaiki adalah pasarnya yang tidak efektif,” tambahnya.
Berganti ke topik lain, Janatan Fatir yang merupakan mahasiswa Unsoed juga mengeluhkan soal tenaga kerja asing di Indonesia. Fatir meresahkan banyaknya pekerja asing yang mengisi berbagai sektor industri di Indonesia.
Menjawab itu, Anies menyatakan bahwa sesungguhnya Indonesia memiliki anak-anak bangsa terbaik yang dapat terlibat dalam proyek-proyek besar di Indonesia. Ia mencontohkan saat melakukan pembangunan JIS.
“Justru pekerja kita adalah para ahli terbaik di dunia dan hal itu dibuktikan dengan pembangunan Jakarta International Stadium (JIS). Namun, ke depan negara perlu membuat sistem yang merekomendasikan para ahli tersebut, jadi mirip dengan marketplace namun untuk mencari ahli di bidang apapun,” paparnya.
Di bagian akhir, pemuda lainnya yang bermama Sutis mempertanyakan ancaman budaya KPop bagi pengembangan budaya lokal di Indonesia kepada Anies.
Menjawab kekhawatirannya, Mantan Gubernur DKI Jakarta itu mengatakan bahwa justru Korea Selatan mesti menjadi contoh sebagai negara yang memberi perhatian pada sektor budaya.
"Dan itu dilakukan sejak 90an, baru 20 tahun setelahnya mereka menikmatinya. Ini yang juga akan dilakukan perubahan ke depan dengan mengalokasikan dan menginvestasi sektor budaya agar budaya kita semakin dikenal ke depannya,” tandasnya.