
Jude Bellingham tertangkap kamera tutupi mulut saat bicara dengan Jordan Ayew. (Ulrik Pedersen/Le Parisien)
JawaPos.com - Piala Dunia tahun ini menghadirkan aturan baru terkait larangan bagi pemain untuk menutupi mulut saat berbicara dengan lawan dalam situasi tertentu. Aturan itu memungkinkan wasit mengeluarkan kartu merah jika tindakan itu dilakukan dalam konteks konfrontatif.
Implementasi aturan itu pun sudah terlihat dalam turnamen. Gelandang Paraguay Miguel Almiron menjadi pemain pertama yang menerima kartu merah karena menutupi mulut ketika berbicara dengan Mert Muldur di tengah situasi pertandingan yang memanas. Tindakan itu pun dinilai konfrontatif oleh wasit.
Namun, situasi berbeda terjadi dalam laga Inggris kontra Ghana pada Rabu (24/6). Gelandang timnas Inggris Jude Bellingham tidak mendapat hukuman meski sempat terlihat menutupi mulut saat berbicara dengan pemain Ghana Jordan Ayew. Sehingga mengundang pertanyaan terkait konsistensi penerapan aturan baru itu.
Dilansir dari TNT Sports, Kepala Wasit FIFA Pierluigi Collina mengungkapkan, tindakan menutup mulut tidak serta-merta dianggap pelanggaran. Collina menegaskan bahwa konteks komunikasi menjadi faktor utama dalam penilaian.
“Pemain tetap boleh menutupi mulut dengan lengan atau jersey saat berbicara, karena itu bisa saja percakapan biasa. Namun, jika percakapan itu bersifat konfrontatif, maka tindakan tersebut dapat dianggap sebagai sesuatu yang salah dan berpotensi berujung kartu merah,” ujar Collina sebelum turnamen resmi dimulai.
Dalam kasus Bellingham, percakapan yang terjadi dinilai tidak bersifat konfrontatif, sehingga tidak memenuhi kriteria pelanggaran. Sementara itu, Bellingham juga terlibat dalam insiden lain saat laga Inggris melawan Ghana yang berakhir imbang 0-0.
Pada babak pertama, Bellingham terlibat adu argumen dengan pelatih Ghana Carlos Queiroz usai melakukan pelanggaran terhadap Jerome Opoku di dekat area teknis. Ketegangan sempat meningkat sebelum akhirnya diredam oleh rekan setim Bellingham, Morgan Rogers.
Queiroz mengungkapkan bahwa insiden itu dipicu oleh reaksi emosional Bellingham. “Dia bereaksi buruk dengan beberapa kata yang tidak pantas, itu yang memulai semuanya. Saya hanya ingin mengingatkan agar ia lebih tenang karena tekel tersebut bisa berujung kartu kuning kedua atau bahkan kartu merah,” kata Queiroz.
Meskipun demikian, ketika ditanya wartawan terkait hal apa yang dikatakan Bellingham, Queiroz mengatakan bahwa itu bukan sesuatu yang penting. Sang pelatih memaklumi dan menyebutnya sebagai bagian dari emosi dalam pertandingan sepak bola.

Prediksi Skor Paraguay vs Australia di Piala Dunia 2026: Berebut Tiket 32 Besar Namun Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Swiss vs Kanada di Piala Dunia 2026: Jonathan David Tancap Gas Bombardir Gawang La Nati
Prediksi Skor Turki vs Amerika Serikat di Piala Dunia 2026: The Stars & Stripes Berburu Rekor Sempurna di Fase Grup
Prediksi Skor Jepang vs Swedia di Piala Dunia 2026: Samurai Biru Incar Tiket 32 Besar di Laga Penentuan
Prediksi Skor Afrika Selatan vs Korea Selatan di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Wajib Menang Demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Tunisia vs Belanda di Piala Dunia 2026: Oranje Wajib Menang demi Amankan Tiket 32 Besar
Profil Wakil Ketua BEM UI Fathimah Azzahra yang Konsisten Mengkritik Program MBG
Prediksi Skor Bosnia dan Herzegovina vs Qatar di Piala Dunia 2026: Mimpi Buruk Al-Annabi Belum Usai
Prediksi Skor Curacao vs Pantai di Piala Dunia 2026: Misi Les Éléphants Menang demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Maroko vs Haiti di Piala Dunia 2026: Achraf Hakimi Cs Siap Pesta Gol di Laga Penentuan
